Rabu, 24 Agustus 2016

Belajar Menghargai Profesi dari Pembuat Kerupuk
Informasi PendidikanRabu, Agustus 24, 2016 0 komentar

Salah satu siswa bersusah payah mencoba mencetak kerupuk. Hari itu mereka berkunjung ke sentra pembuatan kerupuk
Ada pemandangan menarik saat siswa Kelas IV SDN 4 Singotrunan Banyuwangi salah satu sekolah mitra USAID PRIORITAS mengamati proses pembuatan kerupuk. “Ternyata buat kerupuk itu susah ya, padahal harganya murah,” ungkap Soelangit, salah satu siswa.

Hari itu seluruh siswa belajar tentang pengenalan aktivitas ekonomi di lingkungan dekat sekolah atau tempat tinggal siswa pada pelajaran IPS. Endang Nurhayati sang guru kelas, ingin menunjukkan langsung pada siswa bahwa banyak sekali aktivitas ekonomi yang bisa diamati langsung di sekitar sekolah. Endang kemudian membawa siswa ke sebuah industri rumahan pembuatan kerupuk di belakang sekolah milik salah satu orangtua murid. Mereka belajar cara mencampur bahan pembuatan kerupuk, membuat adonan, mencetak adonan, memasak, menjemur, hingga kerupuk mentah jadi dan siap dipasarkan.

Kesulitan yang tinggi dalam pembuatan kerupuk tak pernah dibayangkan siswa. Membuat adonan misalnya, dibutuhkan tenaga yang kuat untuk melumat adonan dengan tangan. Saat mencetak adonan bukan perkara mudah. Tiga siswa yang mencoba mencetak adonan menjadi kerupuk, tak ada yang berhasil. Saat menjemur kerupuk pun bukan perkara mudah. Butuh sinar matahari yang terik agar kerupuk kering maksimal, bila kurang kering maka kerupuk akan berjamur.

“Saya tidak bisa membayangkan pembuatannya sesulit ini. Tadi saya berkali-kali mencoba mencetak adonan tidak berhasil juga,” terang Nada, salah satu siswi sambil keringatan.

Menurut Endang, kegiatan ini terlihat sederhana tapi maknanya luar biasa. “Makanan kerupuk adalah makanan murah yang kadang tidak dihargai. Padahal proses kegiatannya juga membutuhkan keahlian khusus,” terangnya. Dari kegiatan ini menurut Endang, pemikiran siswa menjadi berubah. Mereka lebih menghargai profesi seseorang meski kadang diremehkan. “Melalui kegiatan ini mereka lebih memaknai bahwa profesi apapun yang dimiliki seseorang itu butuh keahlian khusus yang tidak dimiliki orang lain sehingga harus dihargai,” terangnya.

Selasa, 23 Agustus 2016

Komunikasi Intens dengan Ortu Kunci Sukses Tangani ABK
Informasi PendidikanSelasa, Agustus 23, 2016 0 komentar

Titis saat membimbing Danial di kelas. Danial sangat menonjol dalam bidang Bahasa melebihi tmen-temannya
Tidak mudah menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Karena setiap anak-anak ABK memiliki bakat dan potensi yang berbeda-beda. Inilah tantangan yang dihadapi oleh Suhariyanto Kepala SDN 3 Rogojampi Banyuwangi dan Titis Ina Ashari Guru Pendamping anak ABK di sekolah yang sama.

Sejak ditunjuk menjadi sekolah yang khusus menangani anak-anak ABK, Suhariyanto bersama para guru bahu membahu menangani anak-anak ABK yang bersekolah di sekolah mitra USAID PRIORITAS di wilayah Banyuwangi ini.

“Kami memang tidak punya sumber daya khusus yang memiliki pendidikan sarjana bidang inklusi. Namun para guru aktif mengikuti sejumlah pelatihan terkait inklusi sehingga selalu memperbaharui pengetahuannya dibidang inklusi,” terangnya.

Ada beberapa strategi yang dikembangkan oleh Suhariyanto. Selain mengupdate kemampuan guru-gurunya, Suhariyanto menunjuk satu guru khusus sebagai koordinator anak-anak ABK yakni Titis.
“Bu Guru Titis setiap hari berkeliling memantau perkembangan anak-anak-ABK di setiap kelas. Beliau yang mencatat perkembangan anak-anak ABK. Beliau juga yang aktif berkomunikasi dengan orangtua,” terangnya.

Suhariyanto juga bekerjasama dengan psikolog yang khusus menangani anak-anak ABK untuk dipantau kemajuan belajarnya setiap semester.

Sementara itu koordinator untuk anak-anak ABK Titis mengungkapkan, menangani anak-anak ABK sangat tidak mudah. “Kuncinya pakai hati,” terangnya.

Menurutnya, menggali bakat anak-anak ABK harus sabar dan telaten. “Ada anak yang tidak terkontrol dalam kesehariannya, ternyata dia berbakat di bidang seni. Ada juga anak yang tidak berminat mengikuti pembelajaran sehari-hari, tetapi dia sangat berbakat dalam bidang Bahasa,” ungkapnya.

Danial misalnya. Salah satu anak ABK ini apabila mengikuti pembelajaran kerap ogah-ogahan. Siswa kelas II ini kadang harus diberikan perhatian khusus dibanding siswa lainnya. Namun bila tiba pembelajaran Bahasa, dia akan duduk paling depan dan memperhatikan pembelajaran dari awal hingga akhir. Bahkan kemampuan Danial di bidang Bahasa melebihi teman-temannya. “Danial sangat berminat dalam bidang Bahasa. Dia menguasai beberapa kata dalam Bahasa Inggris melebihi teman-temannya. Dia juga menguasai Bahasa Mandarin,” terangnya.

Yang tidak kalah penting lainnya adalah komunikasi antara pihak sekolah dengan orangtua. Hampir setiap hari, Titis menghubungi orangtua untuk melaporkan perkembangan anak. Perubahan sekecil apapun harus disampaikan kepada orangtua. Misalnya siswa hari ini sudah mulai bisa membaca, bisa menggambar, mau bersosialisasi dengan teman dan perkembangan anak lainnya.

“Sekecil apapun perkembangan anak, harus disampaikan ke orangtua agar ditindaklanjuti di rumah. Misalnya anak bisa membaca, harus disampaikan ke orangtuanya sehingga di rumah orangtua membimbing anaknya lagi untuk membaca agar tidak lupa,” ungkap Titis. Dengan bekerjasama antara guru dan orangtua, anak-anak ABK bisa berkembang dengan baik.

Yang terakhir menurut Titis, apabila anak-anak ABK itu diawasi oleh pengasuhnya, sebaiknya memilih pengasuh yang telaten dan sabar. “Kadang memang anak-anak ABK itu melakukan hal-hal yang diluar batas, disanalah kesabaran dan ketelatenan kita membimbing mereka diuji. Dibutuhkan orang-orang yang sabar dan paham betul dengan sikap mereka. Nah, kadang asisten rumah tangga atau pengasuh yang belum berpengalaman menangani anak ABK tidak sabar, bahkan cenderung emosi menghadapi mereka, ini yang harus dihindari karena sangat mempengaruhi perkembangan emosi anak juga,” ungkapnya.

Tingkatkan SDM Guru dengan B3
Informasi PendidikanSelasa, Agustus 23, 2016 0 komentar

Penyerahan buku B3 di Pamekasan
Sedikitnya 197.676 eksemplar buku diberikan oleh United States Agency for International Development (USAID) Prioritas melalui program hibah buku bacaan berjenjang (B3).

Ratusan ribu buku tersebut masing-masing disebarluaskan di tiga kabupaten di Madura.Rinciannya, Bangkalan menerima 78.948 buku, Sampang 61.812 buku dan Pamekasan 56.916 buku. Dengan demikian tercatat 323 sekolah di tiga kabupaten telah menerima hibah buku.

Ali Imron selaku District Coordinator (DC) untuk program B3 USAID Prioritas Jatim mengatakan, ratusan ribu buku tersebut telah diserahkan langsung kepada sekolah non mitra.

“Ini merupakan salah satu cara untuk dapat meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang akan datang, karena tonggak masa depan ada di setiap individu yang berkualitas,” katanya.
Ali Imron berharap, dengan diserahkanya ribuan buku tersebut, sekolah-sekolah dasar di Sampang bisa terbantu. Sehingga para guru  yang mengajar dikelas rendah ( kelas 1,2 dan 3), bisa dengan mudah memahami dan memberikan materi terhadap siswanya.

“Semoga ini menjadi bahan tambahan referensi untuk meningkatkan pengetahuan, jadi dengan ini para anak didik tidak hanya terfokus pada beberapa teori, namun akan ditambah oleh macam-macam teori pendukung mata pelajaran nantinya,” tambahnya.

Sementara itu, Hartono Salfiyuniato selaku Program Asisten Usaid Prioritas Madura menyatakan, selain memberikan hibah buku, pihaknya juga memberikan pelatihan terhadap 1.292 guru ditiga kabupaten. Sedangkan di Sampang tercatat ada 404 guru yang dibekali pelatihan.

“Pelatihan ini tidak hanya berupa teori saja, namun semua peserta harus melakukan praktik langsung, sehingga harapanya seluruh peserta pelatihan bisa memiliki keahlian dalam penggunaan buku B3,” ungkapnya.

Lanjut Hartono, kegiatan pelatihan dan bantuan tersebut diharapkan bukan hanya dirasakan pada saat ini saja, namun berdampak dan dirasakan nanti setelah dapat mencetak bibit baru dan penerus masa depan bangsa yang berkualitas.

“Dampaknya bukan saat ini, namun nanti dengan meningkatnya pengetahuan yang dimiliki, akan tercipta kepuasan yang ternilai dengan prestani yang dimiliki,” tuturnya.

sumber: korankabar

Jumat, 19 Agustus 2016

Sururi Menarik Minat Siswa dengan Mendongeng Buku Besar
Informasi PendidikanJumat, Agustus 19, 2016 0 komentar


Sururi bersama kuda kesayangannya siap mendongengkan cerita pada anak-anak dengan buku besar.

Purbalingga, Jawa Tengah – Ridwan Sururi (43), Kuda Pustaka dari Gunung Slamet yang biasanya membawa buku yang dengan kudanya yang bernama Luna, melakukan kegiatan yang berbeda. Kamis (11/8), setelah melakukan rutinitas meminjamkan buku, mencatat buku yang masuk dan keluar, Sururi mengajak siswa membaca bersama dengan buku besar yang diambil dari buku bacaan berjenjang bantuan program USAID PRIORITAS. Dia mengajak anak-anak membaca secara interaktif untuk menumbuhkan minat membaca siswa. Kegiatan itu kali pertama dilakukannya di SDN 5 Serang Karangreja Purbalingga saat anak-anak istirahat.

“Siapa yang pernah pergi ke rumah kakek?” tanya Sururi kepada anak-anak yang sudah mengerubutinya. “Saya-saya-saya,” teriak semua siswa dengan antusias sambil mengacungkan tangan.  “Kalau begitu, saya akan menceritakan betapa serunya seminggu bermain ke rumah kakek,” saut  Sururi sambil membuka buku besar yang dia pegang. Anak-anak tampak menikmati kegiatan membaca bersama dengan Sururi.

“Ternyata ratusan buku sumbangan dari USAID PRIORITAS, ada buku penunjangnya. Namanya buku besar. Saya baru belajar menggunakannya. Buku itu mudah menggunakannya, seperti mendongeng tapi dituntun dengan buku yang besar,” kata Sururi antusias.

Dirinya ingat saat masih SMP, dia pernah mengirimkan cerita dongeng ke Radio Republik Indonesia (RRI) dua kali. Cerita yang pertama berjudul Sandul dan kedua adalah Timun Mas. Cerita itu dia dapatkan dari Neneknya yang tiap malam menceritakan padanya. Paginya Sururi kecil langsung menuliskannya.

“Dongeng-dongeng dari Nenek, saya hafal sampai sekarang. Hal itu yang membuat saya semakin bersemangat untuk mendongeng atau sekedar bercerita kepada anak-anak. Cerita yang ada pesan moralnya itu pasti akan diingat sampai lama,” tutur pegiat literasi yang selalu tampil sederhana.
Seorang anak yang mendengarkan cerita dari Sururi, In Amik Midyawati, siswa kelas 3 di SDN 5 Serang, menceritakan dirinya sangat senang setiap kali Kuda Pustaka datang ke sekolahnya. Dia bisa melihat kuda, meminjam buku dan banyak orang yang berkumpul. Amik langsung mendekat ketika melihat Sururi memanggil anak-anak untuk bercerita. Buku yang dipakai oleh Sururi katanya menarik dan cara berceritanya juga lucu.

“Kami tadi di tanya-tanya, apa pernah ke rumah kakek? Dan diajak menebak isi cerita buku. Besok kata Pak Sururi ceritanya berbeda dan lebih bagus,” aku Amik dengan lugunya.

USAID PRIORITAS telah memberikan bantuan 792 buku kepada Ridwan Sururi-Kuda Pustaka penggiat literasi di lereng Gunung Slamet. Donasi buku bacaan berjenjang tersebut digunakan untuk membantu Sururi meningkatkan minat dan kemampuan membaca anak-anak. *

Ada Pelangi di Baskomku
Informasi PendidikanJumat, Agustus 19, 2016 0 komentar


Pelangi yang terpantul dari air di baskom

Helmina SPd guru kelas V SDN Ngaglik 01 Kota Batu ingin sekali menjelaskan terjadinya pelangi dan menunjukkan ke siswanya saat pelajaran IPA. Namun sayangnya, saat ini pelangi jarang sekali terjadi.

Helmina yang merupakan Fasilitator Daerah USAID PRIORITAS dari Kota Batu ini kemudian mengajak siswanya untuk melakukan percobaan terjadinya pelangi. Siang itu matahari cukup terik, tepat di jam 11.30 WIB anak anak kelas VC berkelompok di lapangan sekolah. Dua jam terakhir adalah jam pelajaran IPA, mata pelajaran yang kurang mereka sukai karena banyak hafalan dan istilah-istilah latin yang menurut siswa sulit. Helmina mengajak siswa melakukan percobaan terjadinya pelangi melalui proses mencoba sendiri, mengasosiasi, dan mengomunikasikan konsep yang akan mereka pelajari. “Wihhh seru Bu, berarti kita bisa menangkap pelangi ya?” teriak Safira, salah satu siswa Kelas VC. Kapan terakhir kali kalian mengamati pelangi di langit?” tanya Helmina sebelum mereka mulai percobaan. “Sudah lupa. Sudah jarang terjadi Bu,” Dedra menyahut. “Kemarin, ketika sore hari  terjadi hujan panas,” terang Retha. “Bagus sekali. Sayangnya tidak semua bisa melihat pelangi ya,” terang Helmina.

Meskipun jam terakhir, tapi mereka tetap semangat. “Baiklah, mari kita menyanyi dulu, lagunya Pelangi, tapi liriknya kita ganti ya. Kata-kata merah-kuning-hijau diganti mejikuhibiniu singkatan dari merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu,” ungkap Helmina.

Mereka kemudian serentak menyanyikan lagu Pelangi sambil membuat lingkaran di setiap kelompok. Sebelumnya Helmina dan siswa sudah menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan yakni baskom yang diisi air, cermin datar, dan kertas putih sebagai layar.

Selesai menyanyikan lagu, Helmina membagikan lembar kerja kepada ketua kelompok. Dengan semangat siswa melaksanakan langkah-langkah yang telah ditugaskan di lembar kerja kelompok.
Langkah awal siswa harus berada pada tempat dimana sinar matahari bersinar sangat terik. Lalu cahaya matahari tersebut dibiaskan dan diuraikan oleh air dalam baskom dan terbentuklah pelangi. Pantulan pelangi ditangkap oleh kertas sehingga akan tampak dalam kertas putih.

“Saya berhasil menangkap pelangi,” teriak Kelompok Merah. “Saya juga, keren,” sahut Kelompok Biru. Selanjutnya setiap kelompok mencatat warna apa saja yang muncul dalam pantulan pelangi di kertas putih tadi. Ada juga beberapa kelompok yang belum berhasil menangkap pelangi karena menangkap cahaya matahari dan memantulkannya lewat cermin datar adalah bagian tersulit. Setiap siswa dituntut ketrampilannya memfokuskan cermin pada cahaya matahari.  Selanjutnya mereka berdiskusi tentang bagaimana proses terjadinya pelangi dalam percobaan ini, apa peran cermin datar, air dalam baskom, kegunaan kertas, warna apa saja yang tertangkap layar, warna apa yang terluar, warna apa yang terdalam. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bahan diskusi yang dapat di deskripsikan kemudian dikomunikasikan lewat kegiatan presentasi.
Pembelajaran hari itu diakhiri dengan kegiatan presentasi dan pemajangan hasil laporan percobaan.
 
Kegiatan ini dapat dikembangkan dengan menggunakan bahan lain, untuk melihat pelangi “buatan” yakni dapat pula digunakan prisma, keping CD bekas, atau air yang disemprotkan. Hal ini bisa dilakukan apabila cuaca tidak selalu mendukung, Jika cahaya matahari tidak bersinar, maka pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan bahan pengganti.*

Senin, 08 Agustus 2016

Seribu Sekolah di Sidoarjo Ikrarkan Gerakan Literasi Sekolah
Informasi PendidikanSenin, Agustus 08, 2016 0 komentar


Bupati Sidoarjo bersama sekolah-sekolah yang mendapatkan penghargaan literasi

Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo bersama-sama dengan Jawa Pos, USAID PRIORITAS, dan Penerbit Buku Erlangga mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah ke 1000 Sekolah di Sidoarjo. Kegiatan yang bertajuk Sidoarjo Gemar Membaca dan Menulis berlangsung hari ini (8/8) dihadiri Bupati Siaful Ilah didampingi Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo Sulamul Hadi dan Ketua Komisi D Kabupaten Sidoarjo  yang membidani bidang Pendidikan H Usman.

Dalam sambutannya, Saiful Ilah menyatakan komitmennya akan menjadikan Sidoarjo sebagai Kabupaten Literasi. Salah satunya adalah bersama dengan dinas terkait dan DPRD akan segera merumuskan kebijakan-kebijakan yang mendukung literasi berupa peraturan bupati, menyusun tim literasi kabupaten, dan mewujudkan gerakan literasi di masyarakat dan satuan Pendidikan dari mulai sekolah dasar hingga tingkat atas.

“Sidoarjo yang masuk menjadi 20 kabupaten literasi percontohan nasional menargetkan di tahun 2016 ini dapat menjadi kabupaten literasi tidak hanya di lingkup sekolah saja, namun juga di lingkup masyarakat. Untuk itu kami akan mendukung gerakan literasi dengan tersedianya bahan-bahan bacaan yang mendukung gerakan literasi seperti buku, Koran, dan Majalah di temapt-tempat umum yang mudah dijangkau oleh masyarakat Sidoarjo,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, Pemkab Sidoarjo bersama dengan USAID PRIORITAS memberikan penghargaan kepada 11 sekolah yang telah menerapkan gerakan literasi di sekolahnya yakni SDN Sedatigede 2, SD Hangtuah X Juanda, MINU Ngingas Waru, SMPN 3 Sidoarjo, SMPN 2 Sedati, MTs Nurul Huda Sedati, SMAN 1 Waru, SMKN 1 Sidoarjo, SMK NU Sidoarjo, MAN Sidoarjo, dan SMA Muhammadiyah Sidoarjo.

Kepala SDN Sedatigede 2 Sedati Sidoarjo Sumiati mengungkapkan, literasi di sekolahnya sudah dilaksanakan sejak 2005 lalu dimana setiap kelas telah memiliki sudut baca kelas. Penerapan jam khusus membaca senyap selama 15 menit juga telah dilaksanakan sejak 2 tahun lalu. Dampak yang paling terlihat menurutnya, adalah kebutuhan akan buku bacaan semakin meningkat.

“Untuk mengantisipasi kebutuhan buku bacaan yang semakin tinggi, kami menggandeng Perpustakaan Daerah Kabupaten Sidoarjo dimana setiap bulan Perpusda rutin meminjami 150 judul buku kepada sekolah kami. Selain itu mobil pustaka juga melakukan kunjungan rutin ke sekolah kami setiap 2 minggu sekali,” terangnya.

Pangesti Wiedarti Ketua Satgas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud mengungkapkan, komitmen pemerintah daerah untuk mendukung terbentuknya kabupaten literasi sangatlah besar. Untuk itu dia berharap Sidoarjo yang sudah menjadi percontohan kabupaten literasi memperkuat komitmen dengan adanya landasan hukum peraturan bupati atau perda.

“Pelaksanaan membaca senyap selama 15 menit diharapkan dilakukan oleh seluruh satuan Pendidikan di Sidoarjo. Selain itu kedepan tempat-tempat umum seperti bandara, terminal, stasiun, hingga taman kota memiliki sudut baca yang nyaman sehingga masyarakat di Sidoarjo semakin senang membaca buku,” terangnya.

Gerakan Literasi Sekolah dikembangkan berdasarkan dikeluarkannya Permendikbud No 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti dimana salah satu sikap penumbuhan budi pekerti adalah dengan gemar membaca buku. Dalam kegiatan ini sekolah diharapkan mene
rapkan gerakan literasi dengan mewajibkan siswa membaca buku selama 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Dalam kesempatan ini, USAID PRIORITAS juga membagikan 70 ribu lebih Buku Bacaan Berjenjang kepada 130 sekolah se-Kabupaten Sidoarjo.*