Senin, 20 Februari 2017

USAID PRIORITAS Pacu Peningkatan Kualitas Sekolah Lab
Informasi PendidikanSenin, Februari 20, 2017 0 komentar

Rektor UM (kiri) menyatakan akan terus mengawal peningkatan kualitas dosen dalam mendidik calon guru
MALANG – Memasuki tahun ke lima, USAID PRIORITAS Jawa Timur akan segera berakhir. Menutup kerjasama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), USAID PRIORITAS mengadakan pertemuan mitra LPTK tingkat provinsi Jawa Timur pada hari Senin, 20 Februari 2017. Pertemuan ini mengundang seluruh mitra LPTK dan Konsorsium di Jawa Timur. Tujuannya adalah berbagi pengalaman praktik baik di perkuliahan dan kemitraan sekolah – LPTK yang mendukung peningkatan mutu pendidikan di Jawa Timur. Hadir pada kesempatan tersebut juga hadir para rektor LPTK dan perwakilan konsorsia LPTK, serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Ibu Dra Zubaidah, MM.
Lynne Hill, Teaching and Learning Advisor USAID PRIORITAS yang hadir mengatakan kerjasama USAID PRIORITAS dengan LPTK ini sudah berjalan dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan dokumentasi praktik baik yang dikumpulkan dari para dosen, guru sekolah mitra LPTK dan calon guru yang menjadi mahasiswa LPTK.
“USAID PRIORITAS telah melaksanakan beragam kegiatan dengan mitra LPTK dan sekolah, kemudian akan segera menyelesaikan program ini. Peran ini akan digantikan oleh LPTK dan konsorsium yang hadir disini untuk melanjutkan kegiatan peningkatan kulaitas pendidikan yang lebih baik. Untuk itu saya berharap dengan adanya pertemuan ini, dapat merumuskan strategi kedepan agar program ini dapat berkelanjutan dan pendidikan yang lebih baik akan terus dilaksanakan,” ungkap Lynne Hill.
Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Bapak Prof Dr AH Rofi’uddin, M. Pd mengungkapkan bahwa beliau telah beberapa kali mengikuti kegiatan praktik mengajar di sekolah lab mitra UM dan melihat langsung perubahan sekolah ke arah yang lebih baik dan budaya guru dalam mengajar juga sudah berubah setelah adanya pelatihan USAID PRIORITAS. “Memang tidak mudah untuk mengubah paradigma mengajar baik guru maupun dosen namun proses ini akan terus kami kawal meskipun program USAID PRIORITAS sudah berakhir. Sudah menjadi tugas LPTK untuk dan memperkuat kapasitas dosen sehingga mereka bisa menghasilkan calon guru yang berkualitas,” terangnya.
Sebagai ajang berbagi pengalaman praktik yang baik, ditampilkan testimoni dari sekolah mitra mengenai pembelajaran PAKEM di tingkat SD/MI yang dibawakan oleh SDN Percobaan 2 Malang dan pembelajaran kontekstual di tingkat SMP/MTs yang disampaikan SMPN 18 Malang.
Bapak M Hasanuddin Jaelani, S. Pd Guru SDN Percobaan 2 Malang mengungkapkan, pelatihan yang diberikan oleh USAID PRIORITAS banyak memberikan manfaat kepada guru. Banyak hal yang sudah dilakukan setelah mendapatkan pelatihan dari USAID PRIORITAS. “Dampak nyata yang paling terlihat adalah perubahan cara mengajar guru menjadi lebih aktif, siswa menghasilkan beragam karya inovasi, dan keterlibatan komite sekolah untuk pengembangan sekolah semakin besar,” terangnya.
Dari sisi pembelajaran lanjut guru yang akrab dipanggil Pak Dindin ini menjelaskan, guru semakin siap dalam melaksanakan pembelajaran dan melaksanakan reviu setelah pembelajaran selesai. “Ini sangat bermanfaat bagi kami karena sebelumnya dalam melakasanakan pembelajaran, kami jarang melakukan reviu sehingga kadang kami bingung dalam melaksanakan pembelajaran untuk tahun selanjutnya. Namun dengan adanya reviu pembelajaran kami lebih bisa menyiapkan perangkat pembelajaran untuk semester selanjutnya,” terangnya.
Pertemuan diakhiri dengan penyerahan piagam apresiasi kemitraan yang diberikan USAID PRIORITAS Jawa Timur kepada LPTK, Konsorsia LPTK, Fasilitator LPTK dan sekolah mitra LPTK. 
Untuk meningkatkan kapasitas  dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi guru pra (mahasiswa calon guru) dan dalam jabatan, serta membantu kabupaten/kota dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan manajemen pendidikan, USAID PRIORITAS Jawa Timur telah bekerjasama dengan 3 LPTK yakni Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
USAID PRIORITAS juga bekerjasama dengan LPTK konsorsium yaitu dari 3 LPTK diatas yaitu: Universitas Negeri Jember, Universitas Nusantara PGRI Kediri, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Universitas PGRI Madiun, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, IAIN Tulungagung, dan IAIN Ponorogo.
Untuk kerjasama dengan sekolah mitra laboratorium LPTK, USAID PRIORITAS telah melakukan kerjasama dan melatih guru, kepala sekolah, dan pengawas dari 29 sekolah laboratorium LPTK yang terdiri dari 10 sekolah lab mitra UNESA (6 SD dan 4 SMP),  10 sekolah lab mitra UINSA (6 MI dan 4 MTs), dan 9 sekolah lab mitra UM (6 SD dan 3 SMP).
Lebih dari 8.054 dosen LPTK mitra telah mendapatkan pelatihan praktik yang baik dalam pembelajaran dan manajemen berbasis sekolah yang memberikan manfaat langsung pada 33.284 mahasiswa calon guru
USAID PRIORITAS juga melatih 140 sekolah laboratorium dan mitra LPTK untuk digunakan mahasiswa sebagai tempat praktik mengajar di sekolah yang telah menerapkan pembelajaran aktif dan manajemen berbasis sekolah.*

Jumat, 03 Februari 2017

Jangan Harap Murid Rajin Baca, Bila Guru Tak Suka Baca
Informasi PendidikanJumat, Februari 03, 2017 0 komentar

Guru saat mengikuti program wajib membaca setiap hari di sekolah minimal 15 menit
LAMONGAN - Sejak ditetapkannya Gerakan Literasi Sekolah sebagai gerakan baca untu seluruh sekolah di Indonesia, setiap sekolah berlomba-lomba menerapkan budaya baca. Hasil Sebuah survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain yang bekerja sama dengan sejumlah peneliti sosial menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Survei yang dilakukan sejak 2003 hingga 2014. Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang puas di posisi 61. Sedangkan Thailand berada satu tingkat di atas Indonesia, di posisi 59.
Hasil survey ini tampaknya membuat gerah pemerintah, sehingga setiap sekolah saat ini diwajibkan untuk mulai menerapkan budaya baca.
Namun sayangnya, kewajiban untuk rajin membaca ini hanya diperuntukkan bagi siswa saja. Namun hal ini tidak berlaku bagi SMPN 3 Lamongan. Digagas oleh kepala sekolah sebelumnya yang dulu pernah menjabat di SMPN 3 Lamongan Yayuk Setya Rahayu, ia memiliki ide bahwa kewajiban membaca buku tidak hanya siswa namun guru pun harus rajin membaca pula sehingga bisa menjadi model bagi siswanya.
melalui Program Siswa Guru Gemar Membaca (Sigema), baik siswa maupun guru di SMPN 3 Lamongan wajib membaca buku setiap hari. Menurut Duryat SPd Wakil Kepala SMPN 3 Lamongan, kegiatan ini mulai diterapkan di sekolah sejak 9 November 2015 setelah kepala sekolah dan guru mengikuti pelatihan modul 2 oleh USAID PRIORITAS dimana di dalamnya terdapat materi pelatihan tentang budaya baca di sekolah.
Kegiatan diawali dengan pertemuan bersama komite sekolah untuk membicarakan tentang rencana kegiatan budaya baca Sigema. Selanjutnya, disosialisasikan kepada staf guru dan administrasi sekolah serta orangtua siswa.
Kegiatan ini didukung kemudian ditindaklanjuti dengan adanya sudut baca di 30 kelas yang ada, ruang guru, ruang tata usaha, dan ruang kepala sekolah. Selain dari dana BOS dan bantuan USAID PRIORITAS, koleksi buku di sudut baca juga diperoleh dari sumbangan peserta didik.
“Kami mengomunikasikan program budaya baca kepada paguyuban kelas sehingga mereka turut berpartisipasi dengan menyumbang buku dan rak buku,” imbuh Duryat.
Nah, sebagai kelanjutan membaca senyap sebelum pelajaran dimulai, siswa dan guru wajib membaca buku setiap hari selama 15 menit dan merangkum isi buku di jurnal membaca. Setiap siswa dan guru masing-masing menerima satu jurnal membaca. Kegiatan merangkum ini dilaksanakan setiap hari yang nanti diarahkan untuk membuat tulisan di majalah sekolah.
Bentuk dukungan sekolah untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dan guru adalah dengan menggelar pelatihan jurnalistik selama tiga hari. Guru harus dibekali materi jurnalistik karena akan mendampingi dan melatih siswa pula.
Hasil dari kegiatan ini, kini sekolah ini telah memiliki majalah sekolah dimana penulisnya adalah guru dan siswa. Selain itu program budaya baca di SMPN 3 Lamongan diwujudkan dalam bentuk lomba jurnal atau rangkuman setelah siswa membaca. Jurnal membaca ini secara berkala dicek oleh guru, petugas perpustakaan, dan wali kelas.*

Senin, 30 Januari 2017

Perkuat Inovasi Untuk Lanjutkan Praktik Baik Perkuliahan dan Kemitraan Sekolah
Informasi PendidikanSenin, Januari 30, 2017 0 komentar

Lynn Hill (tengah) saat mencoba salah satu karya siswa
KOTA SERANG – “Hampir lima ratus dosen sudah dilatih USAID PRIORITAS di Banten. Ini membuktikan sudah banyak dosen terlatih melakukan praktik baik di perkuliahan sehingga ke depan program ini perlu dilanjutkan dengan inovasi-inovasi terbaru,” kata Rektor IAIN SMH Banten, Prof Dr Fauzul Iman MA (30/1). Dia juga mengapresiasi USAID PRIORITAS yang sudah memfasilitasi kemitraan dengan LPTK selama kurun waktu lima tahun.
Memasuki tahun ke lima, USAID PRIORITAS Banten mengadakan pertemuan mitra LPTK tingkat provinsi pada hari Senin, 30 Januari 2017. Pertemuan ini mengundang seluruh fasilitator yang terdiri atas dosen IAIN SMH Banten dan UNTIRTA, LPTK Konsorsia, seluruh kepala sekolah, guru dan perwakilan komite sekolah dari 18 sekolah mitra. Tujuannya adalah berbagi pengalaman praktik baik di perkuliahan dan kemitraan sekolah – LPTK yang mendukung peningkatan mutu pendidikan di Banten. Hadir pada kesempatan tersebut juga para fasilitator LPTK, kepala sekolah mitra LPTK dan perwakilan konsorsia LPTK.
Lynne Hill, Teaching and Learning Advisor USAID PRIORITAS yang hadir mengatakan kerjasama USAID PRIORITAS dengan LPTK ini sudah berjalan dengan sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan dokumentasi praktik baik yang dikumpulkan dari para dosen, guru sekolah mitra LPTK dan calon guru yang menjadi mahasiswa LPTK. “Pada pertemuan ini kita juga akan mendengarkan testimoni dari para penulis buku praktik baik LPTK sehingga bisa menjadi bahan referensi dan inspirasi bapak-ibu semua,” kata Lynne Hill. Lynne juga berharap bahwa pertemuan ini  merupakan kesempatan yang baik untuk berbagi pengalaman dan berkolaborasi agar praktik baik bisa terus dilanjutkan.
Sebagai ajang berbagi pengalaman praktik yang baik, ditampilkan demonstrasi siswa dari sekolah mitra mengenai pembelajaran PAKEM di tingkat SD/MI yang dibawakan MIN 1 Kota Cilegon dan pembelajaran kontekstual di tingkat SMP/MTs yang disampaikan SMPN 3 Kota Serang. Selain itu, ada pula kolaborasi dosen dan guru pada penelitian tindakan kelas (PTK) yang berhasil meningkatkan kemampuan komunikasi tertulis ilmiah siswa SMPN 6 Kota Serang melalui penerapan penilaian kinerja dengan pendampingan.
Untuk mendorong penguatan praktik baik tersebut, digelar sesi ‘Bedah Buku Penulis Praktik Baik di LPTK’ yang menghadirkan perwakilan para penulis.  Tokoh kunci dalam sesi itu adalah Warek I UNTIRTA, Dr H Fatah Sulaiman MT dan Kabid Penma Kemenag Provinsi Banten, Dr H Mahfuddin MSi yang memberikan tanggapan terhadap dokumentasi buku praktik baik tersebut.
Fatah Sulaiman berkata “Saya mengapresiasi USAID PRIORITAS yang sudah melatih dosen untuk melaksanakan praktik baik bahkan mendokumentasikannya melalui buku. Ternyata praktik yang sederhana saja bisa menjadi bahan pembelajaran bahkan karya ilmiah. Saya sarankan bapak-ibu membaca buku ini sebagai bahan rujukan inovasi praktik baik di masa mendatang.”
Pertemuan diakhiri dengan penyerahan piagam apresiasi kemitraan yang diberikan USAID PRIORITAS Banten kepada LPTK, Konsorsia LPTK, Fasilitator LPTK dan sekolah mitra LPTK. 
Sejak 2012, USAID PRIORITAS telah bekerja bersama 7 pemerintah kabupaten di  Banten untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar, yakni Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Serang.
Untuk meningkatkan kapasitas  dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi guru pra (mahasiswa calon guru) dan dalam jabatan, serta membantu kabupaten/kota dalam meningkatkan kualitas tata kelola dan manajemen pendidikan, USAID PRIORITAS Banten telah bekerjasama dengan 2 LPTK yakni UNTIRTA dan IAIN SMH Banten juga 4 LPTK Konsorsium yakni Universitas Banten Jaya, Universitas Mathl’aul Anwar, Universitas Muhammadiyah Tangerang dan STKIP Setia Budhi Rangkasbitung.
Kerjasama ini telah memfasilitasi pelatihan kepada hampir 500 dosen dan 200 mahasiswa di Provinsi Banten untuk melaksanakan praktik baik di perkuliahan. USAID PRIORITAS BANTEN telah mengembangkan 18 sekolah mitra laboratorium dan mitra LPTK yang digunakan mahasiswa sebagai tempat praktik mengajar di sekolah yang menerapkan pembelajaran aktif dan manajemen berbasis sekolah. 18 sekolah mitra ini terdiri atas 12 SD/MI dan 6 SMP/MTs yang berada di Kabupaten Serang, Kota Serang dan Kota Cilegon.*

Siswa SMP Temukan Pestisida Alami dari Jahe dan Mengkudu
Informasi PendidikanSenin, Januari 30, 2017 0 komentar

JOMBANG - Penggunaan pestisida yang berlebihan untuk membasmi hama dan serangga dalam tanaman ternyata memiliki dampak buruk untuk kesehatan. Untuk itulah Wulandari Guru IPA SMPN 1 Diwek Jombang bersama-sama dengan siswa Kelas VIII SMPN 1 Diwek Jombang mencari bahan alternatif pengganti pestisida yang aman untuk tanaman. Wulandari mengungkapkan, setelah mengikuti pelatihan dari USAID PRIORITAS dirinya tergerak untuk selalu melaksanakan pembelajaran aktif berbasis saintifik. Berdasarkan hal tersebut ia mendorong siswanya untuk terus berinovasi dan menghasilkan karya terbaik, salah satunya adalah dengan membuat temuan pestisida alami.

Siswa SMPN 1 Diwek Jombang saat menghancurkan mengkudu sebagi bahan pestisida alami
Ia kemudian menugaskan siswanya mencari literatur di internet dan perpustakaan untuk menemukan bahan alami apa saja yang bisa dipakai sebagai pengganti pestisida.
“Setelah melakukan beragam percobaan akhirnya kami menemukan bahan jahe dan mengkudu adalah perpaduan yang pas sebagai pengganti pestisida,” Ungkap Wulandari.

Mengapa jahe dan mengkudu yang dipilih? Menurut Villia Tarien Amalina salah satu siswa yang melakukan penelitian, jahe megandung rasa pedas dan anti jamur sehingga bisa mematikan hama tanaman. Sedangkan mengkudu dapat menekan pertumbuhan bakteri dan sebagai anti bakteri untuk memproteksi tanaman. Selain jahe dan mengkudu, lanjut Villia, pestisida alami yang bisa ditambahkan adalah cabai, serai, dan daun jeruk.

Beberapa hama tanaman yang bisa dimusnahkan dengan menggunakan pestisida alami berbahan dasar jahe dan mengkudu diantaranya adalah ulat buah, kutu daun, belalang, trips, kutukebul, nematoda, dan antraknos.

Cara pembuatannya cukup mudah, 10 buah mengkudu matang dihancurkan sampai halus. Kemudian ¼ kg jahe diparut sampai halus. Kedua bahan dicampurkan dan ditambah dengan 750 ml air, lalu disaring. Air saringan tersebut dimasukkan ke dalam botol semprotan dan siap digunakan.

Mereka melakukan penelitian pada tanaman buah di sekitar halaman sekolah yang terkena hama. Setelah dilakukan penyemprotan beberapa kali, ternyata hamanya semakin lama semakin berkurang dan mati. Tanaman pun tumbuh dengan lebih sehat dan aman dikonsumsi.

“Memang tidak seperti pestisida berbahan kimia yang langsung mematikan hama saat itu juga, pestisida alami memerlukan waktu beberapa kali penyemprotan. Namun hasilnya untuk jangka panjang lebih aman dan sehat,” terang Wulandari.

Pestisida alami ini belum berniat untuk dipatenkan oleh Wulandari. “Kami masih akan melakukan penelitian ulang lagi agar hasilnya lebih sempurna,” urainya.*

Minggu, 29 Januari 2017

Lihat Implementasi Program USAID PRIORITAS di Maros
Informasi PendidikanMinggu, Januari 29, 2017 0 komentar

Direktur USAID Eric McKee saat mengajar dengan buku besar di Maros
MAKASSAR – Direktur Misi Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID), Erin McKee, dan Konsul Jendral Amerika di Surabaya, Heather Variava mengunjungi lembaga pendidikan yang ada di Makassar dan Maros, Sulawesi Selatan, untuk melihat dampak program jangka panjang USAID bekerja sama dengan pemerintah daerah, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), dan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar, Kamis (26 Januari 2017)

Kunjungan hari ini berfokus untuk meninjau dampak program USAID PRIORITAS (Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching Indonesia’s Teachers, Administrators, and Students) yang dimulai sejak tahun 2012  dan akan berakhir pada pertengahan tahun ini. Program ini memperkenalkan pembelajaran aktif dan kontekstual, manajemen berbasis sekolah, budaya baca dan juga peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan sekolah.

Dengan bekerja sama langsung dengan sekolah, LPTK, dan pemerintah daerah, USAID telah membantu meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan sehingga para siswa dapat mengembangkan kebiasaan belajar yang lebih baik. Direktur Misi McKee dan Konsul Jendral Variava mengunjungi sekolah mitra USAID PRIORITAS  yaitu SDN Gunung Sari I Makassar dan Madrasah Ibtidaiyah Maros Baru, Maros.

Bersama pejabat pemerintah daerah setempat, Konsul Jendral dan Direktur Misi meninjau kelas-kelas, berbicara dengan para guru dan pengelola sekolah, bertemu dengan beberapa anggota komite sekolah yang aktif membantu memfasilitasi pembelajaran di kelas bersama guru. “Komunitas di sekitar sekolah sangat aktif terlibat dalam membantu para guru mengajar dengan lebih baik. Sekolah-sekolah ini menunjukkan komitmen yang tinggi meningkatkan kualitas pembelajaran dan dampaknya memperlihatkan komitmen mereka,” ujar Konsul Jendral Variava.

"Sangat menarik melihat bagaimana para siswa di sekolah ini sangat bersemangat dalam mengikuti pembelajaran; dan bagaimana para guru sangat bangga bisa menggunakan keterampilan mengajar yang baru! Peningkatan kualitas di sekolah ini dan juga sekolah-sekolah mitra USAID PRIORITAS yang lain, menunjukkan bahwa menerapkan pembelajaran aktif dan manajemen berbasis sekolah dengan konsisten telah meningkatkan kualitas pendidikan ribuan siswa,” ujar Direktur Misi USAID McKee.

Nur Ridhawati, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Maros Baru, mengatakan bahwa kekonsistenan menerapkan metode-metode program USAID telah menjadikannya memperoleh juara kepala madrasah terbaik  di Sulawesi Selatan pada tahun 2015. "Pelatihan-pelatihan yang telah kami dapatkan mendorong kami untuk terus maju berkembang,” ujarnya. Kemajuan tersebut juga telah membuat sekolah memperoleh banyak penghargaan yang lain. Selama tiga tahun belakangan, sekolah telah menerima 62 penghargaan (dan hanya 10 penghargaan saja selama periode sebelumnya yaitu antara tahun 1998 sampai  2012  sebelum bermitra dengan USAID).

Idrus, Kepala SDN Gunung Sari 1 Makassar, menerangkan bahwa sekolahnya juga menikmati jerih payah berkat komitmen mereka untuk penerapkan praktik pendidikan yang lebih baik. “Dengan menerapkan pendidikan aktif, manajemen berbasis sekolah, pertisipasi masyarakat dan juga budaya baca, kami baru saja menjadi juara satu lomba literasi  se-kota makassar,  yang menunjukkan membaiknya tingkat membaca di sekolah kami,” katanya.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Makassar, Ismunandar, USAID PRIORITAS telah membawa peningkatan mutu pembeljaran di sekolah. “Pembelajaran menjadi lebih relevan sesuai dengan konteks, lingkungan, dan kebutuhan siswa. Para guru menjadi lebih inovatif dalam mengembangkan metode, media dan sumber belajar untuk siswa. Para siswa juga lebih menikmati  pelajaran mereka dan lebih banyak menghasilkan karya belajar dan membaca juga sudah lebih membudaya pada siswa,” katanya.

Bupati Maros, Hatta Rahman yang datang bersama Ketua DPRD Maros, A.S Chaidir Syam, Ketua Komisi III DPRD Maros, Haeriah Rahman, dan Kepala Kemenag Maros, Syamsudin, berharap program USAID PRIORITAS terus berlanjut. “Program ini sangat sesuai dengan fokus kami pada paruh kedua pemerintahan ini yaitu pengembangan sumber daya manusia. Saya menyaksikan sendiri siswa menjadi sangat antusias belajar dan guru guru menjadi kreatif dan inovatif dalam pembelajaran. Ini modal yang amat baik bagi pengembangan sumber daya manusia ke depan,”ujar Bupati yang berjanji akan mendesiminasikan program USAID PRIORITAS ke sekolah-sekolah lainnya dengan menggunakan dana APBD.

Minggu, 22 Januari 2017

Gerakan Massal Ortu Sumbang Buku Kumpulkan Seribu Lebih Buku
Informasi PendidikanMinggu, Januari 22, 2017 0 komentar

SURABAYA – Komitmen Surabaya sebagai kota literasi tampaknya benar-benar diterapkan di semua lembaga, termasuk institusi yang dekat dengan buku yakni sekolah. Hampir seluruh sekolah di kota Surabaya telah menerapkan budaya baca dengan mengadakan reformasi di perpustakaan dan pembiasaan membaca 15 menit. Dengan berjalannya budaya baca di hampir semua sekolah di Surabaya, membuat kebutuhan akan buku juga meningkat. Hal ini juga dialami oleh SDN Wiyung 1 Surabaya. Apalagi setelah mengikuti pelatihan tentang literasi dari USAID PRIORITAS, praktis sekolah ini menerapkan literasi hingga ke pembelajaran.

Trubus (kiri) Kasek SDN Wiyung 1 saat menerima secara simbolis sumbangan 1.097 bantuan buku dari ortu berupa buku layak pakai dan buku baru
Sejak memberlakukan budaya baca di sekolah ini, minat baca siswa meningkat dratis. Akibatnya, siswa seperti ketagihan membaca buku sehingga kebutuhan buku bacaan terus meningkat. “Semakin lama koleksi buku-buku di perpustakaan dan di sekolah sudah habis semua dibaca siswa, giliran kami yang bingung,” ungkap Trubus SPd, MPd Kepala SDN Wiyung 1 Surabaya.
Kondisi ini kemudian disampaikannya di forum rapat dengan komite sekolah untuk dipecahkan bersama. “Jangan sampai kekurangan buku bacaan di sekolah ini menghambat minat baca siswa untuk membaca,” ungkap Trubus.

Dari forum rapat dengan komite sekolah itulah, kemudian komite sekolah menyampaikan permasalahan kekurangan buku bacaan kepada wali murid. Tak dinyana, wali murid tergerak untuk menyumbangkan buku secara massal. “Mereka menganggap kondisi kekurangan buku bacaan ini harus segera diatasi karena mereka sudah merasakan bagaimana anak-anak mereka sekarang bergairah dalam membaca buku di sekolah maupun di rumah,” terang Trubus.

Gerakan massal orangtua menyumbang buku ini berhasil mengumpulkan 1.097 buku atau 12 persen dari jumlah total buku yang ada sekarang. Hendrik Anandra Setiawan, pustakawan SDN Wiyung 1 menambahkan koleksi buku sebelum sumbangan dari orangtua berjumlah 7.965 eksemplar. Sekarang sudah mencapai 9.062 eksemplar. “Kalau sekolah harus membeli sebanyak itu sepertinya tidak mungkin. Gerakan massal orangtua menyumbang buku dengan kesadaran sendiri dan tanpa paksaan ini menurut kami luar biasa dan bisa mengatasi kekurangan buku di sekolah ini,” ungkapnya.

Ketua Komite Sekolah SDN Wiyung 1 Imam Basuki menegaskan keinginan menyumbang buku tersebut merupakan bentuk kepedulian orang tua kepada anak-anaknya. “Buku dari pemerintah terbatas, baik dari segi jumlah maupun jenisnya. Sementara seiring dengan meningkatnya minat baca anak, kebutuhan buku juga mengalami peningkatan. Kami terpicu untuk menyumbang buku demi kebutuhan anak-anak juga,” terang Imam. Buku yang disumbangkan pun jenisnya bermacam-macam dan tidak harus baru. Yang penting buku tersebut masih bagus dan layak dibaca oleh anak-anak. Dengan adanya sumbangan buku dari orangtua murid ini menurut Trubus sementara sudah menutupi kebutuhan buku bacaan di sekolahnya.*

Peringkat Akreditasi Naik Setelah Mengimplementasi Program
Informasi PendidikanMinggu, Januari 22, 2017 0 komentar

Wiwik Winarti Kepala SDN Jeruk 1 Surabaya bangga bisa bermitra bersama USAID PRIORITAS
SURABAYA – Tak terasa, memasuki tahun ke-5 atau tahun terakhir Program USAID PRIORITAS bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di Jawa Timur. Kerjasama dengan LPTK tersebut meliputi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan Universitas Negeri Malang (UM). Kerjasama tersebut tidak hanya di perguruan tinggi saja, namun juga mencakup sekolah laboratorium mitra LPTK. Sekolah mitra LPTK juga juga mendapatkan pelatihan dari Program USAID PRIORITAS khususnya di Jatim sebanyak 28 sekolah yang terdiri dari sekolah laboratorium UNESA sebanyak 10 sekolah SD dan SMP, UINSA sebanyak 9 sekolah MI dan MTs, dan UM sebanyak 9 sekolah SD dan SMP.

Pada 20-21 Januari lalu saat mengikuti kegiatan ‘Meeting and Working with TTI Lab and Partner Schools & Facilitator Review and Planning Meetings’ sejumlah kepala sekolah dan guru dari seluruh sekolah mitra LPTK yang telah mendapatkan pelatihan dari USAID PRIORITAS berkumpul dan berbagi pengalaman praktik yang baik. Mereka merasakan manfaatnya setelah mengimplementasikan pelatihan yang sudah diberikan.

“Setiap mendapatkan pelatihan kami langsung implementasikan baik di kelas maupun di sekolah. Guru-guru yang sudah mendapatkan pelatihan terkait pembelajaran diwajibkan untuk mempraktikkan di kelas dan menularkan kepada para guru lainnya yang belum mendapatkan pelatihan,” demikian ditegaskan oleh Wiwik Winarti SPd Kepala SDN Jeruk 1 Surabaya.

Menurut kepala sekolah yang enerjik ini, dahulu sekolahnya jarang dilirik orang. “Sekolah kami berada di ujung barat Surabaya, sudah masuk perbatasan Gresik. Yang sekolah disana rata-rata orangtuanya dengan ekonomi menengah kebawah. Namun kami tak patah arang. Kami melakukan banyak sekali perubahan setelah mengikuti beragam pelatihan dari USAID PRIORITAS. dampaknya luar biasa. Kualitas pembelajaran meningkat. Peran orangtua lebih besar dan sangat membantu dalam keberhasilan sekolah. Prestasi siswa juga meningkat. Dan budaya baca berjalan dengan sangat baik di sekolah kami. Setiap siswa di sekolah kami sekarang seperti ketagihan buku, mereka setiap hari berlomba-lomba menyelesaikan buku,” terang Wiwik. Puncak prestasi yang diperoleh SDN Jeruk 1 adalah naiknya peringkat akreditasi menjadi B.

Kepala SDN Wiyung 1 Surabaya Trubus SPd MPd mengungkapkan, pembelajaran aktif di sekolahnya sudah berjalan di hampir seluruh kelas. “Silakan datang di sekolah kami, seluruh guru telah melaksanakan pembelajaran aktif dan karya siswa sudah dipajang di seluruh tembok kelas,” terangnya. Menurutnya, SDN Wiyung 1 yang merupakan sekolah mitra dari UNESA kini tampil percaya diri apabila dijadikan sebagai tempat menimba ilmu mahasiswa UNESA yang akan melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) karena kemajuan sekolahnya kini semakin pesat.

Dyah Eko Guru SMP Laboratorium Surabaya menambahkan, sebagai guru Bahasa Indonesia dia mengenal tentang literasi namun belum paham betul penerapannya dalam pembelajaran. “Setelah mendapatkan pelatihan dari USAID PRIORITAS, akhirnya saya paham betul bagaimana harus menerapkan literasi dalam pembelajaran,” terangnya.

Nur Kholis Spesialis Kerjasama Perguruan Tinggi USAID PRIORITAS Jatim mengungkapkan kegiatan ini juga sebagai ajang pamitan dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh sekolah mitra yang telah mau meluangkan waktu untuk mengikuti seluruh pelatihan hingga mengimplementasikannya di sekolah.*