Rabu, 17 Mei 2017

15 Kab/Kota Berkomitmen Melanjutkan Pendidikan Berkualitas
Informasi PendidikanRabu, Mei 17, 2017 0 komentar


Aulia dan Firsty tampil percaya diri melakukan praktik penjernihan air

JAWA TIMUR – Bupati Kab Blitar Riyanto dan Walikota Batu Edy Rumpoko tampak terpesona dengan penampilan siswa yang percaya diri tampil dengan lancar menjelaskan pembelajaran yang mereka lakukan setiap hari hingga menghasilkan karya yang mereka presentasikan. Kegiatan ini terbingkai saat pelaksanaan Penutupan Program USAID PRIORITAS di Kab Blitar dan Kota Batu.
Tidak hanya di Kab Blitar dan Kota Batu, kegiatan penutupan yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan di 15 kab/kota menunjukkan hasil yang luar biasa. Ke-15 kab/kota yang telah melaksanakan penutupan Program USAID PRIORITAS meliputi Bangkalan, Lamongan, Sampang, Sidoarjo, Nganjuk, Lumajang, Pamekasan, Pasuruan, Kota Mojokerto, Ngawi, Madiun, Jombang, Blitar, Kota Batu, dan Kab Mojokerto.
Di Kab Madiun misalnya, 2 orang siswa Kelas VI Aulia Istiqomah dan Firsty Ayundia dengan percaya diri menampilkan proses penjernihan air dan bisa menjelaskan secara detail bagaimana memanfaatkan material sederhana bisa bermanfaat menjernihkan air. Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jatim mengungkapkan keberanian siswa tersebut tidak dibentuk secara instan. “Mereka bisa tampil percaya diri dan lancar menjawab pertanyaan dari audiens karena memang setiap hari mereka melakukannya di kelas,” ungkapnya.
Melihat hasil tersebut, ke-15 kepala daerah dan pemangku kebijakan pendidikan bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan berkualitas.
Bupati Kab Blitar Riyanto berjanji akan terus mengawal proses peningkatan kualitas pendidikan di Kab Blitar dengan melanjutkan program yang sudah dikembangkan oleh USAID PRIRITAS.
“Sebagai mantan guru, saya merasakan betul manfaat pelatihan untuk guru. Untuk itu saya akan berkomitmen untuk terus membentuk pendidikan berkualitas di Kab Blitar,” terangnya.
Sementara itu Walikota Batu Edy Rumpoko mengungkapkan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Program USAID PRIORITAS ternyata membentuk guru-guru berprestasi di Kota Batu.
“Saya bangga banyak guru dan sekolah memiliki prestasi hingga nasional setelah mengikuti program ini. Melihat hasil yang bagus ini, saya berjanji akan melanjutkan program ini dengan dana mandiri dari Pemkot Batu,” terangnya.
Nurareni Widi A. selaku Kasie Pendanaan Pembangunan Bappeda Provinsi Jatim mengungkapkan, dukungan untuk peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Timur akan terus dilakukan. Salah satu upayanya adalah memberikan masukan dan saran kepada Bappeda di kab/kota agar menganggarkan dana pendidikan sesuai kebutuhan di lapangan.
Stuart Weston COP USAID PRIORITAS di Indonesia menegaskan bahwa menciptakan pendidikan berkualitas itu tidak mudah, apalagi mempertahankannya. “Kunci utamanya adalah dari dukungan pemimpin daerah yang terus ingin melaksanakan pendidikan berkualitas,” terang pria asal Inggris ini.
Kegiatan Penutupan Program USAID PRIORITAS di Jawa Timur masih akan dilaksanakan di 4 kab lagi hingga akhir Mei yakni Tuban, Bojonegoro, Banyuwangi, dan Situbondo.*

Selasa, 09 Mei 2017

Lumajang Anggarkan Rp 2 M Lebih untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan
Informasi PendidikanSelasa, Mei 09, 2017 0 komentar

Salah satu karya siswa SMP Islam Lumajang yang dipamerkan pada Penutupan Program USAID PRIORITAS di Lumajang
LUMAJANG – NGAWI: Bupati Lumajang As’at Malik tampaknya tidak setengah-setengah dalam upayanya meningkatkan kualitas pendidikan di Kab Lumajang. Bahkan untuk anggaran 2017, pihaknya telah menganggarkan Rp 2 Milyar lebih untuk peningkatan kualitas pendidik melalui sejumlah pelatihan dan pengembangan literasi. Hal tersebut disampaikan oleh As’at dalam kegiatan Penutupan Program USAID PRIORITAS di Kab Lumajang (08/05).
As’at mengungkapkan, USAID PRIORITAS yang masuk dan mendampingi Kab Lumajang sejak 2013 lalu dan berakhir pada 2017 ini, telah banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan di Kab Lumajang, salah satunya adalah literasi.
Sejak bergabung dengan USAID PRIORITAS Kab Lumajang mengalami perkembangan luar biasa di bidang literasi. Tidak hanya di sekolah saja, pengembangan literasi menyeluruh hingga ke pelosok-pelosok desa.
Hal inilah yang kemudian membuat Kab Lumajang mendapatkan penghargaan Literasi Prioritas pada Maret 2017 lalu. Untuk itu, bupati yang pernah menjadi guru ini semakin bersemangat untuk meningkatkan literasi di Kab Lumajang.
“Kami akan membuat kegiatan Lumajang Membaca di Bulan Mei ini yang diikuti sekitar 25 ribu warga Lumajang untuk membaca dan membuat resensi buku, dan beberapa agenda lain terkait literasi,” terangnya.
Bersamaan dengan kegiatan penutupan program ini, tampil 2 siswa dari SMP Islam Lumajang yang memamerkan karyanya berupa karya 3 dimensi pembelajaran Bahasa Inggris yang berasal dari kertas bekas. Menurut Nurul Jazilah Guru Bahasa Inggris SMP Islam Lumajang, berkat bimbingan dari USAID PRIORITAS kini ia selalu melaksanakan pembelajaran aktif dan diminati siswa, padahal dahulu pelajaran Bahasa Inggris menjadi pelajaran yang ditakuti karena dianggap sulit.
Plt Dinas Pendidikan Kab Lumajang Agus Salim menjelaskan, penyebarluasan praktik yang baik melalui diseminasi Program USAID PRIORITAS sangat efektif dalam meningkatkan kualitas guru di Kab Lumajang. Bekerjasama dengan Balai Diklat Kab Lumajang, sebanyak 4.102 pendidik telah mengikuti pelatihan dengan dana mandiri maupun didanai oleh Pemkab Lumajang melalui Dinas Pendidikan dan Balai Diklat, serta Kemenag.
Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Timur mengungkapkan, Kab Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang telah mengembangkan Program USAID PRIORITAS dengan hasil yang sangat baik dan memberikan hasil yang baik.
“Kemajuan pendidikan di Kab Lumajang meningkat pesat setiap tahun dan tentu saja ini karena dukungan yang besar dari pemangku kebijakan yang sangat memahami pentingnya peningkatan kualitas pendidikan,” terangnya.
Kegiatan Penutupan Program USAID PRIORITAS juga dilaksanakan di Kab Ngawi (09/05). Abimanyu, Kepala Dinas Pendidikan di Kab Ngawi mengungkapkan, kemajuan pendidikan di Kab Ngawi dengan adanya pendampingan dari USAID PRIORITAS merata di hampir semua sekolah baik SD, MI, SMP, dan MTs. Bahkan dari 24 sekolah mitra, hampir seluruh sekolah telah terlihat perubahannya secara signifikan baik itu dari cara guru mengajar, manajemen sekolah yang lebih baik, dan peran komite di sekolah yang semakin besar.
Sutarti Kepala SDN Guyung 2 Ngawi mengungkapkan, banyak manfaat yang ia peroleh dengan ditunjuk menjadi fasilitator. Salah satunya saat ia mengikuti On The Job Learning  (OJL) menjadi kepala sekolah pengganti di SDN 20 Guyaman Gorontalo yang merupakan sekolah di pelosok perbatasan.
“Banyak ilmu yang bisa saya bagikan disana hasil pelatihan dari USAID PRIORITAS. Dan ternyata guru, kepala sekolah, dan orangtua siswa disana sangat senang dan berharap mereka bisa mendapatkan lebih banyak lagi pengetahuan tentang pembelajaran aktif,” jelasnya.*

Sabtu, 06 Mei 2017

Begini Cara Menjadikan Sekolah Ndeso Prestasi Nasional
Informasi PendidikanSabtu, Mei 06, 2017 0 komentar

Jakarta – Sri Winarni, kepala SDN Sumbergondo 2 Batu, Jawa Timur, rutin mengajak orang tua siswa yang banyak berprofesi sebagai petani dan pedagang untuk melihat proses pembelajaran anaknya di kelas. Dia mengundang beberapa orang tua siswa secara bergiliran untuk melihat keaktifan siswa belajar di kelas. “Saya ingin menunjukkan kepada orang tua implementasi program peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Cara ini untuk meyakinkan orang tua agar mau ikut terlibat dalam program peningkatan mutu pembelajaran anaknya,” kata Sri Winarni dalam presentasinya pada acara National Educators Conference (NEC) 2017 bertema Education Transparency, Accountability, and Participation: Empowering School and Community for Student Success yang diselenggarakan Sampoerna University, di Jakarta (6/5).

SDN Sumbergondo 2 adalah sekolah mitra USAID PRIORITAS yang terletak di kaki gunung Arjuna. Setelah sekolah ini, tidak ada lagi desa dan sekolah lainnya. “Awal menjabat kepala sekolah, saya dihadapkan dengan banyak masalah. Mulai dari guru yang kurang disiplin dalam mengajar, sering terlambat, pembelajaran berjalan konvensional, dan masyarakat kurang dilibatkan dalam pengembangan sekolah. Banyak yang bilang karena ini sekolah di desa maka hal itu wajar,” katanya lagi.

Kemitraan dengan USAID PRIORITAS dimanfaatkan Sri Winarni untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Dia melibatkan guru dan komite sekolah dalam merancang perubahan di sekolah. Sebagai kepala sekolah, dia juga terbuka dalam pengelolaan anggaran sekolah. Masyakarat dilibatkan dalam merancang program, terlibat aktif dalam implementasi maupun evaluasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.

Dampaknya, kini semua guru kelas sudah menerapkan pembelajaran aktif. Orang tua menjadi lebih percaya untuk membantu kebutuhan guru dalam melaksanakan pembelajaran aktif di kelas. Hasil belajar siswa menjadi meningkat. Mereka berhasil meraih peringkat 1 UASBN tingkat kecamatan, dari sebelumnya hanya peringkat 15. Sekolah ini juga ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kota Batu dan Provinsi Jawa Timur menjadi sekolah rujukan bagi sekolah lainnya.

Narasumber lainnya, Ruba Nurzaman, guru MTs Al Muktariyah Bandung Barat, Jawa Barat, menyebut sebelumnya kondisi pembelajaran di madrasahnya lebih banyak berceramah atau menulis di papan tulis. Setelah mendapat pelatihan dan pendampingan USAID PRIORITAS, mereka membentuk tim pengembang madrasah yang anggotanya terdiri dari kepala madrasah, guru, dan komite madrasah. “Tugas tim ini membuat program, sosialisasi, melaksanakan, dan mengevaluasi keberhasilan program madrasah secara transparan,” kata Ruba dalam presentasinya.

MTs Al Muktariyah juga melakukan diseminasi pelatihan secara mandiri kepada semua guru, agar semua berkesempatan menerapkan pembelajaran aktif yang mendorong siswa belajar menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan budaya baca, dan manajemen berbasis sekolah. Masyarakat juga ruitin diundang ke madrasah untuk melihat showcase keberhasilan pembelajaran di kelas.

“Setelah tiga tahun program berjalan, madrasah kami sekarang menjadi madrasah favorit. Tahun 2016 jumlah siswa kami sudah mencapai lebih dari 1500 siswa. Bahkan tahun ini ada 300 siswa yang ditolak masuk karena keterbatasan kuota siswa baru. Masyarakat menjadi lebih percaya untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah kami,” papar Ruba yang juga menyebut siswa madrasahnya berhasil meraih juara pertama lomba IPA SMP MTs di tingkat kabupaten dan provinsi.
 
SDN Sumbergondo 2 dan MTs Al Muhktariyah mewakili sekolah mitra USAID PRIORITAS yang diundang oleh Sampoerna University dalam acara NEC 2017 untuk berbagi pengalaman dalam keberhasilannya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas melalui penerapan akuntabilitas, transparansi dan partisipasi masyarakat. NEC adalah program dua tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan Samperna University. Acara ini juga dihadiri para narasumber dari Kemendikbud, Transparansi International, Kompasiana, Gramedia, Microsoft, Indonesian Corruption Watch, dan para praktisi pendidikan seperti Itje Khodijah, Dony Koesuma, Iwan Syahril, Handoko Widagdo, dan masih banyak lagi. 

Kamis, 04 Mei 2017

Bantu Kualitas Pendidikan, USAID di Jatim Telah Melatih 17.230 Pendidik
Informasi PendidikanKamis, Mei 04, 2017 0 komentar

Erin McKee saat memberikan cenderamata bola kepada Pakde Karwo
SURABAYA - United States Agency for International Development (USAID) melalui program pendidikan yang diberi nama PRIORITAS telah bermitra dengan Provinsi Jawa Timur dalam kurun waktu 2012-2017.
Dalam waktu tersebut, program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidik melalui sejumlah pelatihan bagi guru, kepala sekolah, pengawas, dan komite sekolah ini, telah melatih sebanyak 17.230 pendidik.
Memasuki akhir program, USAID PRIORITAS akan menuntaskan kegiatannya di Jatim hingga Bulan Juli 2017 nanti. Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jatim menjelaskan bahwa USAID PRIORITAS yang bekerja di 19 kabupaten/kota menggelar roadshow penutupan program sekaligus meminta komitmen dari para pemangku pendidikan di kabupaten/kota untuk terus menjaga kualitas pendidikannya.
Kendala utama yang dihadapi dalam upaya terus meningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten/kota adalah sangat bergantung kepada komitmen kepala daerah dan pemangku kebijakan dalam pendidikan hingga ke level kepala sekolah. “Sebagus apapun kualitas guru, apabila dia tidak didukung oleh kepala sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan lainnya, maka dia hanya akan menyebarluaskan praktik baiknya di kelasnya saja. Padahal praktik baik yang dilakukan guru perlu disebarkan pada guru lainnya dalam forum kelompok kerja guru,” terangnya.
“Sejauh ini kami sudah bertemu dengan pemangku pendidikan di 6 kabupaten/kota dan mereka semua menyatakan siap untuk meneruskan Program USAID PRIORITAS dengan menganggarkan dana untuk peningkatan kualitas pendidikan melalui pelatihan,” lanjut Silvana.
Hingga akhir Mei nanti, Silvana akan mengadakan pertemuan dengan 13 kabupaten/kota lainnya. Ke-19 kabupaten/kota tersebut yakni Bangkalan, Lamongan, Sampang, Sidoarjo, Nganjuk, Lumajang, Situbondo, Pamekasan, Pasuruan, Banyuwangi, Kota Mojokerto, Ngawi, Madiun, Jombang, Blitar, Kota Batu, Kab Mojokerto, Tuban, dan Bojonegoro.
Sementara itu Direktur USAID yang baru saja bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Erin Elizabeth Mckee menjelaskan bahwa USAID masih akan bekerjasama dengan Pemprov Jatim di beberapa bidang antara lain, pendidikan, kesehatan, air dan sanitasi.
"USAID menangani berbagi sektor di Jawa Timur, yang saya bicarakan dengan pak gubernur tadi adalah tentang pendidikan, lingkungan, air bersih dan sanitasi serta pemerintahan yang baik," ujar Erin usai bertemu Soekarwo minggu lalu.
Gubernur Jatim yang akrab disapa pakde karwo mengharapkan keberhasilan USAID di Jatim dilanjutkan khususnya untuk daerah di Pulau Madura, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Probolinggo. “Kerjasama Pemprov Jatim dengan USAID terutama dibidang pendidikan akan habis pada Juli ini. Mohon diperpanjang keberhasilan program-program USAID terutama di Bondowoso, Situbondo, Probolinggo dan seluruh Madura,” kata Pakde Karwo.*

Jumat, 28 April 2017

Benarkah Indonesia Kekurangan Guru?
Informasi PendidikanJumat, April 28, 2017 0 komentar

Jakarta – USAID melalui program PRIORITAS baru saja merilis hasil studi Supply and Demand (suplai dan kebutuhan) Guru Kelas Baru di Sekolah Dasar (SD). Studi ini untuk membantu Kemenristekdikti dan Kemendikbud dalam menganalisis cara memperkecil kesenjangan antara menyiapkan suplai dan kebutuhan guru kelas SD.

Berdasar data rembuk nasional pendidikan dan kebudayaan 2015 yang dikutip oleh tim studi, disebutkan bahwa Indonesia masih kekurangan guru kelas PNS sebesar 282.224 guru, namun jika memasukkan data guru bukan PNS, maka ada kelebihan 82.245 guru kelas. Sementara pada tahun yang sama, berdasar Pangkalan Data Perguruan Tinggi (PDPT) Kemenristekdikti, ada 415 lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), yaitu 37 LPTK negeri dan 378  LPTK swasta, yang meluluskan Program PGSD sebanyak 91.247 lulusan. Lulusan tersebut akan terakumulasi setiap tahunnya dan diproyeksikan pada tahun 2025 mencapai 444.551 lulusan.

Sri Estu Dosen PGSD UM Malang saat memberikan pembelajaran kepada mahasiswa PGSD calon guru
”Dengan mengetahui data guru kelas di sekolah dasar maka LPTK dapat mempertimbangkan kuota mahasiswanya sesuai kebutuhan guru kelas baru di sekolah dasar,” kata Stuart Weston Direktur Program USAID PRIORITAS di Jakarta, Jumat, (27/4/2017).

Studi yang dilaksanakan dalam 18 bulan terakhir tersebut menemukan bahwa kebutuhan guru kelas baru di SD akan meningkat seiring berjalannya waktu, seperti guru yang pensiun, semakin sedikit guru baru yang masuk ke dalam sistem, dan jumlah siswa di sekolah yang meningkat. Namun, ke depan dengan perubahan populasi penduduk, jumlah siswa di SD akan stabil dalam waktu sekitar lima tahun. Jika sistem berlanjut seperti saat ini, tanpa usaha untuk meningkatkan efisiensi dalam penyebaran guru, maka kita dapat mengharapkan adanya penurunan jumlah suplai guru kelas baru selama tahun-tahun mendatang.

Menurut Mark Heyward, ketua tim studi, ada empat skenario yang bisa dilakukan untuk mengurangi kebutuhan kelas SD berdasar pengalaman USAID PRIORITAS membantu penataan dan pemerataan guru di 7 provinsi mitra. Pertama, skenario normal atau tidak melakukan kebijakan apapun. Kedua, melakukan skenario penggabungan sekolah atau kelas rangkap. Ketiga, melakukan skenario alih fungsi guru mata pelajaran menjadi guru kelas. Keempat, melakukan skenario gabungan kedua dan ketiga. “Bila gabungan skenario kedua dan ketiga dilakukan, maka bisa mengurangi kebutuhan guru kelas SD mencapai 45%, dan ini akan membuat efisiensi anggaran pendidikan,” tukas Mark.
Namun demikian, kebutuhan guru baru akan meningkat sejalan dengan jumlah guru yang pensiun dan bertambahnya penduduk usia sekolah, pada tahun 2025 kebutuhan guru baru diproyeksikan sebesar 560.003 guru (skenario 1), sebesar 516.794 guru (skenario 2), sebanyak 438.058 (skenario 3), dan sebanyak 394.914 (skenario 4).

Bila melihat jumlah suplai lulusan PGSD dari sisi wilayah, menurut Aos Santosa salah satu anggota tim studi, LPTK yang ada di Jawa memberikan suplai lulusan PGSD paling besar. Sebagian besar juga dari Sumatra, kecuali Provinsi Kepulauan Riau, dan sebagian besar di Sulawesi, kecuali Sulawesi Barat dan Tenggara. serta Kalimantan Selatan.

“Membandingkan suplai dan kebutuhan guru kelas SD dengan asumsi tidak melakukan skenario efisiensi, di wilayah Jawa baru mengalami kekurangan suplai pada tahun 2023, wilayah Sulawesi pada tahun 2019, wilayah Sumatra pada tahun 2017. Wilayah yang mengalami kekurangan suplai  sejak tahun 2017 adalah wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua,” kata Aos.
Hasil studi ini merekomendasikan suplai guru kelas baru di SD yang berasal dari lulusan LPTK harus melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) setelah lulus S1 PGSD. Dengan demikian PPG bisa menjadi pengendali kelebihan suplai lulusan PGSD terutama memperhatikan kebutuhan nyata di masing-masing wilayah atau lebih rinci menurut provinsi dan kabupaten. “Bahkan dalam mendistribusikan suplai guru SD bisa lintas wilayah berdasarkan rekam jejak LPTK dan provinsi/kabupaten yang sangat membutuhkan guru baru,” tambah Aos.*

Selasa, 25 April 2017

Sidoarjo Bentuk Tim Teknis dan Siapkan Anggaran untuk Literasi
Informasi PendidikanSelasa, April 25, 2017 0 komentar

Tirto Adi (kanan) menerima penghargaan dari USAID PRIORITAS yang diwakili oleh Silvana Erlina (kiri)
SIDOARJO – Seiring dengan akan berakhirnya Program USAID PRIORITAS khususnya di Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu kabupaten mitra telah menyiapkan beragam strategi untuk menindaklanjuti praktik baik dari program yang sudah terlaksana. Hal ini disampaikan oleh Tirto Adi, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo saat menghadiri kegiatan Penutupan program USAID PRIORITAS di Kabupaten Sidoarjo (25/04).
Tirto Adi menjelaskan, kerjasama dengan USAID yang terbina sejak 2005 telah menghasilkan beragam praktik baik yang pada akhirnya meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Sidoarjo. “Salah satu praktik baik yang sudah terlihat adalah terpilihnya Kab Sidoarjo mendapatkan penghargaan literasi Prioritas tingkat nasional pada Bulan Maret. Hal ini merupakan capaian yang juga mendapatkan dorongan dari Program USAID PRIORITAS agar Sidoarjo segera mewujudkan Kabupaten Literasi,” ungkapnya.
Untuk itu, Tirto Adi sudah menyiapkan beberapa strategi agar kualitas pendidikan di Kabupaten Sidoarjo tetap terjaga meskipun Program USAID PRIORITAS yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan dasar sudah selesai. Salah satu strategi yang dirancang oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo adalah fasilitator daerah yang telah dilatih oleh USAID PRIORITAS akan dibentuk sebagai tim teknis dan tim pengembang pendidikan di Kabupaten Sidoarjo. “Untuk itu kami harus menyiapkan payung hukum agar tim teknis dan tim pengembang ini dapat bekerja secara maksimal,” ungkapnya.
Kegiatan lainnya adalah Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,2 Milyar terutama untuk mendukung kegiatan literasi di Kabupaten Sidoarjo.
Menurut Tirto, seluruh sekolah di Kabupaten Sidoarjo sudah menerapkan budaya baca. Meski begitu masih ada saja pemahaman yang kurang terkait literasi di kalangan kepala sekolah dan guru. Untuk itu Tirto berupaya untuk meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah terkait literasi melalui beragam pelatihan. “Kebetulan USAID PRIORITAS sudah memiliki modul lengkap tentang literasi khususnya budaya baca di sekolah, dan fasilitator daerah kami sudah dilatih sehingga tinggal mendiseminasikan kepada guru dan kepala sekolah di Sidoarjo,” terangnya.
Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Timur mengungkapkan, Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten yang antusias meningkatkan kualitas pendidikannya. Bahkan untuk program diseminasi, Kabupaten Sidoarjo merupakan kabupaten yang tertinggi yang telah melakukan diseminasi dengan anggaran bos dan mandiri lebih dari Rp 4 Milyar.
“Keistimewaan Sidoarjo dibanding dengan kabupaten lainnya di Jatim adalah adanya Perbup Nomor 38/2013 tentang Pembinaan dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan dimana guru wajib menyisihkan 5% dana tunjangan profesi pendidik (TPP) untuk penguatan profesionalismenya. Sehingga para guru di Sidoarjo bisa melaksanakan pelatihan secara mandiri dengan dana tersebut,” ungkap Silvana.
Sementara itu kegiatan Penutupan Program USAID PRIORITAS juga dilaksanakan di Kabupaten Nganjuk (26/04). Kegiatan ini dipimpin oleh Sujito, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk. Dalam sambutannya, Sujito juga mengungkapkan dukungannya terhadap keberlanjutan Program USAID PRIORITAS dalam rangka meningkatkan kualitas pendidik di Kabupaten Nganjuk.*

Jumat, 21 April 2017

Lamongan Anggarkan Rp 3 Milyar untuk Dukung Budaya Baca
Informasi PendidikanJumat, April 21, 2017 0 komentar

Wabup Lamongan (kiri) menyaksikan Dewan Pendidikan Lamongan menuliskan komitmennya di bidang pendidikan
LAMONGAN – BANGKALAN : Wakil Bupati Kab Lamongan Kartika Hidayati menyatakan akan memback-up penuh pelaksanaan keberlanjutan Program USAID PRIORITAS di Kab Lamongan. Pernyataan ini tertuang dalam komitmen stakeholder yang dituliskan oleh Kartika bersamaan dengan stakeholder pendidikan lainnya pada kegiatan “Penutupan Program USAID PRIORITAS di Kabupaten Lamongan” yang digelar hari ini (20/4) di Pemkab Lamongan.
Setelah bermitra dengan USAID PRIORITAS dalam bidang pendidikan sejak 2014, tahun ini USAID PRIORITAS akan segera berakhir. Dijelaskan oleh Adi Suwito Kepala Dinas Kab Lamongan, sejak Lamongan terpilih menjadi mitra USAID PRIORITAS, respon Dinas Pendidikan sangat pro aktif. Terbukti dengan adanya komitmen Dinas Pendidikan Kab Lamongan untuk menindaklanjuti program dengan melakukan penyebarluasan praktik baik yang telah dilakukan oleh sekolah mitra ke sekolah non mitra sebanyak 436 sekolah di Kab Lamongan telah melakukan diseminasi dengan dana mandiri dan BOS.
Komitmen lain menurut Adi, yang jelas terlihat setelah bermitra dengan USAID PRIORITAS dimana salah satu program untuk sekolah mitra adalah budaya baca, maka Pemkab Lamongan merespon cepat dengan berlakunya jam wajib membaca melalui Gerakan 18-21. “Gerakan 18-21”, yakni mematikan televisi dan handphone antara pukul 18.00 hingga 21.00 WIB. Dimana setiap keluarga wajib mematikan televisi dan mendampingi putra-putri mereka membaca apa saja. Bisa membaca Al Quran, buku bacaan atau buku pelajaran,” terang Adi.
Kartika Hidayati juga menimpali, “Untuk menjadikan keluarga sakinah mawaddah warrahmah dilakukan dengan 3B. Pertama, berjamaah. Kedua, belajar. Ketiga, berkomunikasi. Untuk itulah kami berkomitmen mengembangkan Gerakan 18-21,” terangnya.
Karena Adi melihat banyak sekolah-sekolah yang sudah berhasil menerapkan budaya baca hasil dari pendampingan dari USAID PRIORITAS dan dalam rangka melaksanakan keberlanjutan program dan berkomitmen Gerakan 18-21, Dinas Pendidikan Kab Lamongan telah mengalokasikan anggaran hampir Rp 3 milyar. “Dana tersebut akan dipergunakan untuk menyupport kegiatan budaya baca, pembelian buku-buku bacaan, dan mendukung Gerakan 18-21,” ungkap Adi.
Sementara itu Kabupaten Bangkalan disaat yang sama juga melaksanakan kegiatan “Penutupan Program USAID PRIORITAS di Kabupaten Bangkalan. Dipimpin oleh Kepala Dinas Pendidikan Kab Bangkalan Mohni, acara yang dipusatkan di SDN Kemayoran 1 Kab Bangkalan membahas strategi keberlanjutan program yang disusun oleh para fasilitator daerah dan stakeholder pendidikan di Kab Bangkalan.*