Minggu, 27 Agustus 2017

ICONELT Agar Kualitas Dosen Bahasa Inggris Lebih Baik
Informasi PendidikanMinggu, Agustus 27, 2017 0 komentar


Surabaya-Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya telah mengadakan the 1st International Conference on English Language Teaching (ICONELT).

Menurut Rakhmawati, Ketua Panitia UINSA, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan para calon guru dan pengajar Bahasa Inggris. ICONELT rencananya diadakan dua tahun sekali.

Kegiatan tersebut diikuti 300 peserta dari berbagai negara, diantaranya Malaysia, Jepang, Inggris, Australia, Vietnam dan Indonesia.

ICONELT menghadirkan beberapa pembicara yang ahli di bidang masing-masing yaitu Prof. Masaki Oda dari Tamagawa University, Assoc. Prof. Henriette van Rensburg dari University of Southern Queensland, Amreet Kaur Jageer Singh, M. Ed dari Sultan Idris Education University Malaysia, Prof. Akh. Muzakki dan Prof. Zuliati Rohmah dari UINSA serta Francis O'Brien dan Fitri Johansyah dari IALF Surabaya.

“Konferensi ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang bervariasi tentang pembelajaran Bahasa Inggris, sehingga dapat meningkatkan pengalaman dan kualitas para calon guru dan pengajar, khususnya yang dihasilkan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris UINSA Surabaya, Juga meningkatkan publikasi ilmiah internasional oleh para guru dan pengajar Bahasa Inggris di Indonesia pada umumnya dan di UINSA Surabaya pada khususnya,” ujar Rakhmawati, pada Minggu (27/8/2017).

ICONELT 2017 juga diharapkan dapat memperluas jaringan kerja sama antar universitas sehingga dapat mempercepat terwujudnya visi UINSA menjadi world class university.*


Sabtu, 26 Agustus 2017

Curhat Emak2: fullday school vs halfday school
Informasi PendidikanSabtu, Agustus 26, 2017 0 komentar

Seorang ibu yang merupakan teman saya curhat di FB nya:

"Terserah orang mau tidak setuju dengan fullday. Kalo saya boleh memilih, saya akan menyekolahkan anak saya di sekolah halfday kemudian pulang ke rumah. Lalu sorenya dia bisa mengaji di masjid atau bersama teman-temannya. Apa daya, sebelum saya putuskan untuk menyekolahkan anak saya ke fullday school, saya sudah ganti asisten rumah tangga hingga 10x. Saya sudah coba bicara dengan suami agar saya pensiun dini sebagai PNS saja tapi suami saya tidak mengizinkan karena secara ekonomi, gaji saya masih dibutuhkan untuk biaya hidup keluarga kami. Jadi fullday school adalah pilihan terbaik."

Saat saya bertemu langsung dengan teman saya itu dan menanyakan tentang curhatnya, dia langsung menitikkan airmata. "Betapa bahagianya seorang ibu yang bisa merawat anaknya dengan tangganya sendiri setiap saat hingga anaknya dewasa," ungkapnya sambil mewek Jaya.

Hmmmm..... Iya juga sih. Saya tidak pro terhadap fullday school, sebaliknya saya juga tidak apatis terhadap halfday school.

Cerita saya sendiri, dengan semangatnya saya daftarkan anak saya di sebuah fullday school dekat rumah. Bagusnya sekolah ini, kita bisa ambil fullday atau halfday. Saya sudah membayangkan anak saya nyaman & bahagia di sekolah tersebut hingga sore hari. Minggu ke 1-4 berjalan lancar dan anak saya sekolah deng riang gembira. Secara pelaksanaan pembelajaran sekolah ini kualitasnya Bagus, satu kelas siswanya maksimal hanya 6 orang dengan 1 guru kelas. Pembelajaran pun aktif dilaksanakan setiap hari.
Memasuki Bulan ke-2 anak saya mulai komplain. Dulu saat masih di playgroup dia hanya sekolah 3 hari saja dengan jam sekolah yang cukup singkat. Sehingga pulang sekolah dia masih bisa leha-leha bermain di rumah dan tidur.
Namun tampaknya jam sekolah baru yang berubah drastis membuat anak saya shock. Kata gurunya tiap jam 11 siang anak saya minta tidur siang hahahaha..........
Akhirnya saya urungkan niat saya menyekolahkan dia full hingga sore hari. Karena setiap jam 11 dia sudah heboh minta gurunya menelpon ke rumah agar dia segera di jemput (ngantuk sudah tak tertahankan katanya). Jadilah dia sekolah hanya dari pukul 8-11 siang saja.

Kenyataan ini mungkin dialami oleh emak2 di Indonesia seperti saya dan teman saya. Jadi terlepas dari ribut-ribut fullday dan halday school, biarkanlah semuanya seperti sekarang.

Pengambil kebijakan diatas sebaiknya apabila sebelum Mengambil keputusan, tanyakanlah juga kepada kami selaku emak2 yang tahu betul kebutuhan anak2 kami.

Jangan biarkan sebuah aturan itu justru mempersulit pelaksana di lapangan. Ini murni curhatan emak2 tanpa tekanan dari siapapun, termasuk tekanan dari suami hahaha

Kepsek dan Pengawas Dilatih Kembangkan Sekolah
Informasi PendidikanSabtu, Agustus 26, 2017 0 komentar


Jakarta – Para kepala sekolah dan pengawas SD, SMP, SMA, dan SMK yang berhasil meraih prestasi di tingkat nasional dilatih dengan kemampuan untuk mengembangkan sekolah seutuhnya. Pelatihan ini ditujukan agar peserta memiliki kemampuan analisis dan rencana aksi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya sekolah dan mendiseminasikan praktik baik serta keberhasilan sekolah kepada sekolah lainnya.  Pelatihan tiga hari ini digelar oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan (Dit. Pembinaan Tendik) Dikdasmen Kemendikbud yang menggandeng Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID) melalui program PRIORITAS.

Melalui pelatihan ini, menurut Garti Sri Utami, Direktur Dit. Pembinaan Tendik Disdasmen Kemendikbud, pihaknya ingin mendorong dan memfasilitasi para kepala sekolah dan pengawas berprestasi untuk melakukan terobosan dan inovasi dalam mengembangkan sekolah seutuhnya. “Mereka harus mampu menjadi agen perubahan sebagai benchmark di sekolahnya maupun sekolah mitranya sehingga keberhasilan di sekolah dapat terus ditingkatkan dan disebarluaskan,” katanya di sela-sela acara pelatihan, Sabtu, (26/8/2017).

Stuart Weston, Direktur Program USAID PRIORITAS, menjelaskan bahwa USAID PRIORITAS dalam menjalankan programnya menggunakan pendekatan whole school development yang berarti semua unsur sekolah terlibat, seperti guru, kepala sekolah, masyarakat, dan siswa. “Peserta akan dilatih bagaimana melibatkan semua unsur sekolah dalam mengembangkan praktik-praktik pendidikan yang baik dalam pembelajaran, budaya baca, manajemen sekolah, dan partisipasi masyarakat,” kata Stuart.

Pada pelatihan ini peserta juga difasilitasi untuk mengunjungi sekolah-sekolah berprestasi di Jakarta. Mereka diajak melakukan studi untuk menemukan keberhasilan maupun hal-hal yang perlu ditingkatkan di sekolah dalam mengimlementasikan pembelajaran aktif, budaya baca, manajemen berbasis sekolah, dan keterlibatan peran serta masyarakat dalam mendukung pengembangan sekolah. Ada empat sekolah yang dikunjungi sesuai jenjang tempat tugas peserta, yaitu SDN Gunung 05 Meksiko, SMPN 11, SMAN 3, dan SMKN 30.

“Dari sekolah yang kami kunjungi, kami dapat belajar bagaimana strategi untuk mendapat dukungan peran serta masyarakat yang besar, terutama dari alumni. Program budaya baca juga mulai berjalan dan tampak sudah ada hasil membaca seperti siswa membuat sinopsis dari buku yang dibacanya,” kata Bangun Pracoyo, salah seorang peserta Pengawas SMP dari Purbalingga, Jawa Tengah, menyampaikan hasil temuannya dari kunjungan sekolah. “Yang perlu dikembangkan adalah penyediaan pojok baca di semua kelas agar siswa lebih mudah mendapatkan akses buku bacaan untuk dibaca,” tambahnya.

Sementara peserta lainnya, Syamsuri Nugroho, kepala SMKN 2 Kasian Bantul, menyebut pelatihan yang diikutinya ini bermanfaat bagi dirinya sebagai pimpinan di sekolah untuk mendukung guru dalam menerapkan pembelajaran inovatif, dan mengembangkan program membaca di sekolahnya. “Saya mendapat banyak referensi untuk diimplementasikan di sekolah saya,” tukas kepala sekolah yang berhasil meraih juara umum best practice nasional tahun 2017 tersebut.*

Rabu, 17 Mei 2017

15 Kab/Kota Berkomitmen Melanjutkan Pendidikan Berkualitas
Informasi PendidikanRabu, Mei 17, 2017 0 komentar


Aulia dan Firsty tampil percaya diri melakukan praktik penjernihan air

JAWA TIMUR – Bupati Kab Blitar Riyanto dan Walikota Batu Edy Rumpoko tampak terpesona dengan penampilan siswa yang percaya diri tampil dengan lancar menjelaskan pembelajaran yang mereka lakukan setiap hari hingga menghasilkan karya yang mereka presentasikan. Kegiatan ini terbingkai saat pelaksanaan Penutupan Program USAID PRIORITAS di Kab Blitar dan Kota Batu.
Tidak hanya di Kab Blitar dan Kota Batu, kegiatan penutupan yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan di 15 kab/kota menunjukkan hasil yang luar biasa. Ke-15 kab/kota yang telah melaksanakan penutupan Program USAID PRIORITAS meliputi Bangkalan, Lamongan, Sampang, Sidoarjo, Nganjuk, Lumajang, Pamekasan, Pasuruan, Kota Mojokerto, Ngawi, Madiun, Jombang, Blitar, Kota Batu, dan Kab Mojokerto.
Di Kab Madiun misalnya, 2 orang siswa Kelas VI Aulia Istiqomah dan Firsty Ayundia dengan percaya diri menampilkan proses penjernihan air dan bisa menjelaskan secara detail bagaimana memanfaatkan material sederhana bisa bermanfaat menjernihkan air. Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jatim mengungkapkan keberanian siswa tersebut tidak dibentuk secara instan. “Mereka bisa tampil percaya diri dan lancar menjawab pertanyaan dari audiens karena memang setiap hari mereka melakukannya di kelas,” ungkapnya.
Melihat hasil tersebut, ke-15 kepala daerah dan pemangku kebijakan pendidikan bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan berkualitas.
Bupati Kab Blitar Riyanto berjanji akan terus mengawal proses peningkatan kualitas pendidikan di Kab Blitar dengan melanjutkan program yang sudah dikembangkan oleh USAID PRIRITAS.
“Sebagai mantan guru, saya merasakan betul manfaat pelatihan untuk guru. Untuk itu saya akan berkomitmen untuk terus membentuk pendidikan berkualitas di Kab Blitar,” terangnya.
Sementara itu Walikota Batu Edy Rumpoko mengungkapkan bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Program USAID PRIORITAS ternyata membentuk guru-guru berprestasi di Kota Batu.
“Saya bangga banyak guru dan sekolah memiliki prestasi hingga nasional setelah mengikuti program ini. Melihat hasil yang bagus ini, saya berjanji akan melanjutkan program ini dengan dana mandiri dari Pemkot Batu,” terangnya.
Nurareni Widi A. selaku Kasie Pendanaan Pembangunan Bappeda Provinsi Jatim mengungkapkan, dukungan untuk peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Timur akan terus dilakukan. Salah satu upayanya adalah memberikan masukan dan saran kepada Bappeda di kab/kota agar menganggarkan dana pendidikan sesuai kebutuhan di lapangan.
Stuart Weston COP USAID PRIORITAS di Indonesia menegaskan bahwa menciptakan pendidikan berkualitas itu tidak mudah, apalagi mempertahankannya. “Kunci utamanya adalah dari dukungan pemimpin daerah yang terus ingin melaksanakan pendidikan berkualitas,” terang pria asal Inggris ini.
Kegiatan Penutupan Program USAID PRIORITAS di Jawa Timur masih akan dilaksanakan di 4 kab lagi hingga akhir Mei yakni Tuban, Bojonegoro, Banyuwangi, dan Situbondo.*

Selasa, 09 Mei 2017

Lumajang Anggarkan Rp 2 M Lebih untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan
Informasi PendidikanSelasa, Mei 09, 2017 0 komentar

Salah satu karya siswa SMP Islam Lumajang yang dipamerkan pada Penutupan Program USAID PRIORITAS di Lumajang
LUMAJANG – NGAWI: Bupati Lumajang As’at Malik tampaknya tidak setengah-setengah dalam upayanya meningkatkan kualitas pendidikan di Kab Lumajang. Bahkan untuk anggaran 2017, pihaknya telah menganggarkan Rp 2 Milyar lebih untuk peningkatan kualitas pendidik melalui sejumlah pelatihan dan pengembangan literasi. Hal tersebut disampaikan oleh As’at dalam kegiatan Penutupan Program USAID PRIORITAS di Kab Lumajang (08/05).
As’at mengungkapkan, USAID PRIORITAS yang masuk dan mendampingi Kab Lumajang sejak 2013 lalu dan berakhir pada 2017 ini, telah banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan di Kab Lumajang, salah satunya adalah literasi.
Sejak bergabung dengan USAID PRIORITAS Kab Lumajang mengalami perkembangan luar biasa di bidang literasi. Tidak hanya di sekolah saja, pengembangan literasi menyeluruh hingga ke pelosok-pelosok desa.
Hal inilah yang kemudian membuat Kab Lumajang mendapatkan penghargaan Literasi Prioritas pada Maret 2017 lalu. Untuk itu, bupati yang pernah menjadi guru ini semakin bersemangat untuk meningkatkan literasi di Kab Lumajang.
“Kami akan membuat kegiatan Lumajang Membaca di Bulan Mei ini yang diikuti sekitar 25 ribu warga Lumajang untuk membaca dan membuat resensi buku, dan beberapa agenda lain terkait literasi,” terangnya.
Bersamaan dengan kegiatan penutupan program ini, tampil 2 siswa dari SMP Islam Lumajang yang memamerkan karyanya berupa karya 3 dimensi pembelajaran Bahasa Inggris yang berasal dari kertas bekas. Menurut Nurul Jazilah Guru Bahasa Inggris SMP Islam Lumajang, berkat bimbingan dari USAID PRIORITAS kini ia selalu melaksanakan pembelajaran aktif dan diminati siswa, padahal dahulu pelajaran Bahasa Inggris menjadi pelajaran yang ditakuti karena dianggap sulit.
Plt Dinas Pendidikan Kab Lumajang Agus Salim menjelaskan, penyebarluasan praktik yang baik melalui diseminasi Program USAID PRIORITAS sangat efektif dalam meningkatkan kualitas guru di Kab Lumajang. Bekerjasama dengan Balai Diklat Kab Lumajang, sebanyak 4.102 pendidik telah mengikuti pelatihan dengan dana mandiri maupun didanai oleh Pemkab Lumajang melalui Dinas Pendidikan dan Balai Diklat, serta Kemenag.
Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jawa Timur mengungkapkan, Kab Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang telah mengembangkan Program USAID PRIORITAS dengan hasil yang sangat baik dan memberikan hasil yang baik.
“Kemajuan pendidikan di Kab Lumajang meningkat pesat setiap tahun dan tentu saja ini karena dukungan yang besar dari pemangku kebijakan yang sangat memahami pentingnya peningkatan kualitas pendidikan,” terangnya.
Kegiatan Penutupan Program USAID PRIORITAS juga dilaksanakan di Kab Ngawi (09/05). Abimanyu, Kepala Dinas Pendidikan di Kab Ngawi mengungkapkan, kemajuan pendidikan di Kab Ngawi dengan adanya pendampingan dari USAID PRIORITAS merata di hampir semua sekolah baik SD, MI, SMP, dan MTs. Bahkan dari 24 sekolah mitra, hampir seluruh sekolah telah terlihat perubahannya secara signifikan baik itu dari cara guru mengajar, manajemen sekolah yang lebih baik, dan peran komite di sekolah yang semakin besar.
Sutarti Kepala SDN Guyung 2 Ngawi mengungkapkan, banyak manfaat yang ia peroleh dengan ditunjuk menjadi fasilitator. Salah satunya saat ia mengikuti On The Job Learning  (OJL) menjadi kepala sekolah pengganti di SDN 20 Guyaman Gorontalo yang merupakan sekolah di pelosok perbatasan.
“Banyak ilmu yang bisa saya bagikan disana hasil pelatihan dari USAID PRIORITAS. Dan ternyata guru, kepala sekolah, dan orangtua siswa disana sangat senang dan berharap mereka bisa mendapatkan lebih banyak lagi pengetahuan tentang pembelajaran aktif,” jelasnya.*

Sabtu, 06 Mei 2017

Begini Cara Menjadikan Sekolah Ndeso Prestasi Nasional
Informasi PendidikanSabtu, Mei 06, 2017 0 komentar

Jakarta – Sri Winarni, kepala SDN Sumbergondo 2 Batu, Jawa Timur, rutin mengajak orang tua siswa yang banyak berprofesi sebagai petani dan pedagang untuk melihat proses pembelajaran anaknya di kelas. Dia mengundang beberapa orang tua siswa secara bergiliran untuk melihat keaktifan siswa belajar di kelas. “Saya ingin menunjukkan kepada orang tua implementasi program peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Cara ini untuk meyakinkan orang tua agar mau ikut terlibat dalam program peningkatan mutu pembelajaran anaknya,” kata Sri Winarni dalam presentasinya pada acara National Educators Conference (NEC) 2017 bertema Education Transparency, Accountability, and Participation: Empowering School and Community for Student Success yang diselenggarakan Sampoerna University, di Jakarta (6/5).

SDN Sumbergondo 2 adalah sekolah mitra USAID PRIORITAS yang terletak di kaki gunung Arjuna. Setelah sekolah ini, tidak ada lagi desa dan sekolah lainnya. “Awal menjabat kepala sekolah, saya dihadapkan dengan banyak masalah. Mulai dari guru yang kurang disiplin dalam mengajar, sering terlambat, pembelajaran berjalan konvensional, dan masyarakat kurang dilibatkan dalam pengembangan sekolah. Banyak yang bilang karena ini sekolah di desa maka hal itu wajar,” katanya lagi.

Kemitraan dengan USAID PRIORITAS dimanfaatkan Sri Winarni untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Dia melibatkan guru dan komite sekolah dalam merancang perubahan di sekolah. Sebagai kepala sekolah, dia juga terbuka dalam pengelolaan anggaran sekolah. Masyakarat dilibatkan dalam merancang program, terlibat aktif dalam implementasi maupun evaluasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.

Dampaknya, kini semua guru kelas sudah menerapkan pembelajaran aktif. Orang tua menjadi lebih percaya untuk membantu kebutuhan guru dalam melaksanakan pembelajaran aktif di kelas. Hasil belajar siswa menjadi meningkat. Mereka berhasil meraih peringkat 1 UASBN tingkat kecamatan, dari sebelumnya hanya peringkat 15. Sekolah ini juga ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kota Batu dan Provinsi Jawa Timur menjadi sekolah rujukan bagi sekolah lainnya.

Narasumber lainnya, Ruba Nurzaman, guru MTs Al Muktariyah Bandung Barat, Jawa Barat, menyebut sebelumnya kondisi pembelajaran di madrasahnya lebih banyak berceramah atau menulis di papan tulis. Setelah mendapat pelatihan dan pendampingan USAID PRIORITAS, mereka membentuk tim pengembang madrasah yang anggotanya terdiri dari kepala madrasah, guru, dan komite madrasah. “Tugas tim ini membuat program, sosialisasi, melaksanakan, dan mengevaluasi keberhasilan program madrasah secara transparan,” kata Ruba dalam presentasinya.

MTs Al Muktariyah juga melakukan diseminasi pelatihan secara mandiri kepada semua guru, agar semua berkesempatan menerapkan pembelajaran aktif yang mendorong siswa belajar menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan budaya baca, dan manajemen berbasis sekolah. Masyarakat juga ruitin diundang ke madrasah untuk melihat showcase keberhasilan pembelajaran di kelas.

“Setelah tiga tahun program berjalan, madrasah kami sekarang menjadi madrasah favorit. Tahun 2016 jumlah siswa kami sudah mencapai lebih dari 1500 siswa. Bahkan tahun ini ada 300 siswa yang ditolak masuk karena keterbatasan kuota siswa baru. Masyarakat menjadi lebih percaya untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah kami,” papar Ruba yang juga menyebut siswa madrasahnya berhasil meraih juara pertama lomba IPA SMP MTs di tingkat kabupaten dan provinsi.
 
SDN Sumbergondo 2 dan MTs Al Muhktariyah mewakili sekolah mitra USAID PRIORITAS yang diundang oleh Sampoerna University dalam acara NEC 2017 untuk berbagi pengalaman dalam keberhasilannya meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas melalui penerapan akuntabilitas, transparansi dan partisipasi masyarakat. NEC adalah program dua tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan Samperna University. Acara ini juga dihadiri para narasumber dari Kemendikbud, Transparansi International, Kompasiana, Gramedia, Microsoft, Indonesian Corruption Watch, dan para praktisi pendidikan seperti Itje Khodijah, Dony Koesuma, Iwan Syahril, Handoko Widagdo, dan masih banyak lagi. 

Kamis, 04 Mei 2017

Bantu Kualitas Pendidikan, USAID di Jatim Telah Melatih 17.230 Pendidik
Informasi PendidikanKamis, Mei 04, 2017 0 komentar

Erin McKee saat memberikan cenderamata bola kepada Pakde Karwo
SURABAYA - United States Agency for International Development (USAID) melalui program pendidikan yang diberi nama PRIORITAS telah bermitra dengan Provinsi Jawa Timur dalam kurun waktu 2012-2017.
Dalam waktu tersebut, program yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidik melalui sejumlah pelatihan bagi guru, kepala sekolah, pengawas, dan komite sekolah ini, telah melatih sebanyak 17.230 pendidik.
Memasuki akhir program, USAID PRIORITAS akan menuntaskan kegiatannya di Jatim hingga Bulan Juli 2017 nanti. Silvana Erlina Koordinator USAID PRIORITAS Jatim menjelaskan bahwa USAID PRIORITAS yang bekerja di 19 kabupaten/kota menggelar roadshow penutupan program sekaligus meminta komitmen dari para pemangku pendidikan di kabupaten/kota untuk terus menjaga kualitas pendidikannya.
Kendala utama yang dihadapi dalam upaya terus meningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten/kota adalah sangat bergantung kepada komitmen kepala daerah dan pemangku kebijakan dalam pendidikan hingga ke level kepala sekolah. “Sebagus apapun kualitas guru, apabila dia tidak didukung oleh kepala sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan lainnya, maka dia hanya akan menyebarluaskan praktik baiknya di kelasnya saja. Padahal praktik baik yang dilakukan guru perlu disebarkan pada guru lainnya dalam forum kelompok kerja guru,” terangnya.
“Sejauh ini kami sudah bertemu dengan pemangku pendidikan di 6 kabupaten/kota dan mereka semua menyatakan siap untuk meneruskan Program USAID PRIORITAS dengan menganggarkan dana untuk peningkatan kualitas pendidikan melalui pelatihan,” lanjut Silvana.
Hingga akhir Mei nanti, Silvana akan mengadakan pertemuan dengan 13 kabupaten/kota lainnya. Ke-19 kabupaten/kota tersebut yakni Bangkalan, Lamongan, Sampang, Sidoarjo, Nganjuk, Lumajang, Situbondo, Pamekasan, Pasuruan, Banyuwangi, Kota Mojokerto, Ngawi, Madiun, Jombang, Blitar, Kota Batu, Kab Mojokerto, Tuban, dan Bojonegoro.
Sementara itu Direktur USAID yang baru saja bertemu dengan Gubernur Jawa Timur Erin Elizabeth Mckee menjelaskan bahwa USAID masih akan bekerjasama dengan Pemprov Jatim di beberapa bidang antara lain, pendidikan, kesehatan, air dan sanitasi.
"USAID menangani berbagi sektor di Jawa Timur, yang saya bicarakan dengan pak gubernur tadi adalah tentang pendidikan, lingkungan, air bersih dan sanitasi serta pemerintahan yang baik," ujar Erin usai bertemu Soekarwo minggu lalu.
Gubernur Jatim yang akrab disapa pakde karwo mengharapkan keberhasilan USAID di Jatim dilanjutkan khususnya untuk daerah di Pulau Madura, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Probolinggo. “Kerjasama Pemprov Jatim dengan USAID terutama dibidang pendidikan akan habis pada Juli ini. Mohon diperpanjang keberhasilan program-program USAID terutama di Bondowoso, Situbondo, Probolinggo dan seluruh Madura,” kata Pakde Karwo.*